Tampilkan postingan dengan label PROFIL KOTA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PROFIL KOTA. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Oktober 2011

PROFIL KOTA PONTIANAK

Profil Kota

      Kota Pontianak merupakan salah satu kota di Indonesia yang dilintasi garis khatulistiwa. Karena posisinya tersebut, kota yang merupakan ibukota provinsi Kalimantan barat ini di kenal sebagai " Bumi Khatulistiwa". Letaknya yang dilintasi garis khatulistiwa menjadikan kota Pontianak sebagai tempat tujuan wisata, baik domestik maupun mancanegara.
     Kota Pontianak dipisahkan oleh sungai kapuas besar, sungai kapuas kecil, sungai landak dengan lebar 400 meter, kedalaman air antara 12 s/d 16 meter sedangkan cabangnya mempunyai lebar 250 meter.
Nama Pontianak dipercaya ada kaitannya dengan kisah dongeng Syarif Abdurrahman yang sering diganggu oleh hantu Kuntilanak ketika beliau menyusuri Sungai Kapuas sepanjang 1100 kilometer, sungai terpanjang di Indonesia. Menurut ceritanya, Syarif Abdurrahman terpaksa melepaskan tembakan meriam untuk mengusir hantu itu sekaligus menandakan dimana meriam itu jatuh, maka disanalah wilayah kesultanannya didirikan. Peluru meriam itu jatuh melewati simpang tiga Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang kini lebih dikenal dengan Beting Kampung Dalam Bugis Pontianak Timur atau kota Pontianak.
Letak Geografis   :  00  02’ 24” – 00  01’ 37” LU  dan   1090  16’ 25” – 1090 23’ 04” BT
Luas wilayah        :  107,82 km2


Batas Wilayah       :  
> Sebelah Utara    :  Kec. Sungai Ambawang
> Sebelah Timur    :  Kec. Sungai Raya dan Kec. Sungai Ambawang
> Sebelah Selatan  :  Kec. Sungai Raya dan Kec. Sungai Kakap
> Sebelah Barat     :  Kec. Sungai Kakap

Jumlah Kecamatan   :  5 kecamatan
Jumlah Kelurahan     :  24 kelurahan  

Selasa, 27 September 2011

PROFIL KOTA CIANJUR

Profil Wilayah
Kota Cianjur merupakan salah satu kecamatan yang terletak di kabupaten Cianjur propinsi Jawa Barat. Cianjur dikenal dengan pameo ngaos, mamaos dan maenpo. Ngaos adalah tradisi mengaji sebagai kegiatan peribadatan, mamaos adalah pencerminan kehidupan budaya daerah dimana seni mamaos Tembang Sunda Cianjuran berbibit buit (berasal) dari tatar Cianjur. Sedangkan maenpo adalah seni beladiri tempo dulu yang
sekarang lebih dikenal dengan Pencak Silat. Kawasan ini terletak pada posisi yang strategis karena dilintasi kota besar Bandung-Jakarta. Masyarakat Cianjur dikenal sebagai masyarakat yang “nyantri” religius. Hal tersebut dibuktikan dengan semakin menguatnya komitmen masyarakat Cianjur untuk melkasanakan yari’at Islam dalam kehidupan sehari-hari yang bukanlah merupakan gerakan politik, tetapi merupakan gerakan moral menuju terciptanya masyarakat Cianjur yang sugih mukti dan Islami dan tetap berada dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Orientasi Wilayah
Batas-batas administrasi kota Cianjur adalah :
  • Sebelah Utara : Kecamatan Mande
  • Sebelah Selatan : Kecamatan Warungkondang
  • Sebelah Timur : Kecamatan karangtengah
  • Sebelah Barat : Kecamatan Cugena


Ekonomi
Kondisi Perekonomian Daerah Sebagai daerah agraris yang pembangunannya bertumpuu pada sektor pertanian, kota Cianjur merupakan salah satu daerah swa-sembada padi. Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar pada PDRB kabupaten Cianjur. Ini terbukti dengan terkenalnya produksi beras Cianjur di pelosok negeri. Perdagangan yang juga merupakan salah satu faktor yang ikut mendukung sektor perekonomian, mendapat perhatian yang khusus dari pemerintah. Ini terlihat dengan dibangunnya Pasar Induk
Cianjur dan Pasar Muka Cianjur yang dilengkapi departemen store Ramayana, Pusat Grosir dan Super Mall Harimart yang terletak di Jl Dr Muwardi Rancagoong yang kesemuanya itu merupakan pusat perdagangan tradisional yang berwajah modern Selain dari perdagangan, sektor perekonomian juga didukung oleh pariwisata dengan Kebun raya Cibodas sebagai primadonanya, selain itu juga dikenal pusat pariwisata lainnya yaitu Gunung Gede dan Istana Kepresidenan dan lain-lain.
Penduduk
Penduduk merupakan aset daerah, karena merupakan subyek sekaligus obyek dari pembangunan. Oleh karenanya faktor penduduk berkompetensi untuk ditinjau sehubungan dengan pembangunan suatu daerah, demi terwujudnya pembangunannya. Jumlah penduduk Kota Cianjur pada tahun 2001 adalah sebesar 141.343 jiwa dengan luas wilayah 2344 Ha. Dengan jumlah penduduk sebanyak itu maka Kota Cianjur dapat digolongkan kepada Kelas Kota Sedang, dimana berdasar kriteria BPS mengenai kelas kota, Kota Sedang adalah Kota dengan jumlah penduduk antara 100.000 sampai 500.000 jiwa.

PROFIL KOTA BANDAR LAMPUNG

Profil Wilayah
Kota Bandar Lampung pintu gerbang Pulau Sumatera. Sebutan ini layak untuk ibu kota Propinsi Lampung. Kota yang terletak di sebelah barat daya Pulau Sumatera ini memiliki posisi geografis yang sangat menguntungkan. Letaknya di ujung  Pulau Sumatera berdekatan dengan DKI Jakarta yang menjadi pusat perekonomian negara. Kota ini menjadi pertemuan antara lintas tengah dan timur Sumatera. Kendaraan dari daerah lain di Pulau Sumatera harus melewati Bandar Lampung bila menuju ke Pulau Jawa. Pada umumnya kendaraan tersebut transit di terminal Rajabasa. Keluar dan masuknya kendaraan baik bus, angkutan kota maupun minibus ke terminal ini, ternyata mampu mendatangkan pemasukan bagi Pendapatan Asli Daerah Sendiri (PADS) Kota Bandar Lampung yang pada tahun anggaran 200 mencapai Rp 11,9 milyar. Angkutan jalan raya mampu menyumbang Rp 273 milyar dari total kegiatan ekonomi tahun 2000. Sumbangan lapangan usaha ini paling besar dibanding angkutan lain misalnya air. Banyaknya kendaraan yang keluar masuk melewati Bandar Lampung ini menambah padatnya jalan-jalan kota. Sejalan dengan perkembangan kota, kendaraan pribadi maupun umum pun semakin menjamur, ditambah lagi dengan kendaraan pengangkut hasil bumi dari pelosok daerah Propinsi Lampung yang akan dikirim ke Bandar Lampung sebagai pusat perdagangan provinsi.

Wilayah Kota Bandar Lampung merupakan daerah perkotaan yang terus berkembang dari daerah tengah ke daerah pinggiran kota yang ditunjang fasilitas perhubungan dan penerangan. Pengembangan kota ditandai dengan tumbuhnya kawasan permukiman, namun demikian daerah pinggiran belum terlihat jelas ciri perkotaannya. Pada tahun 2001 Kota Bandar Lampung dimekarkan dari 9 Kecamatan dan 84 kelurahan menjadi 13 kecamatan dan 98 kelurahan.

Orientasi Wilayah
Secara geografis wilayah Kota Bandar Lampung berada antara 50º20’-50º30’ LS dan 105º28’-105º37’ BT dengan luas wilayah 192.96 km2 dengan batas-batas sebagai berikut :
  • Batas Utara : Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan
  • Batas Selatan : Kecamatan Padang Cermin, Ketibung dan Teluk Lampung, Kabupaten Lampung Selatan
  • Batas Timur : Kecamatan Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan
  • Batas Barat : Kecamatan Gedungtataan dan Padang Cermin Kabupaten Lampung Selatan


Kota Bandar Lampung berada di bagian selatan Propinsi Lampung (Teluk Lampung) dan ujung selatan Pulau Sumatera. Menurut kondisi topografi, Propinsi Lampung dapat dibagi ke dalam 5 (lima) satuan ruang, yaitu:
  • Daerah berbukit sampai bergunung, dengan ciri khas lereng-lereng yang curam dengan kemiringan lebih dari 25% dan ketinggian rata-rata 300 meter dpl. Daerah ini meliputi Bukit Barisan, kawasan berbukit di sebelah Timur Bukit Barisan, serta Gunung Rajabasa.
  • Daerah berombak sampai bergelombang, yang dicirikan oleh bukit-bukit sempit, kemiringan antara 8% hingga 15%, dan ketinggian antara 300 meter sampai 500 meter dpl. Kawasan ini meliputi wilayah Gedong Tataan, Kedaton, Sukoharjo, dan Pulau Panggung di Daerah Kabupaten Lampung Selatan, serta Adirejo dan Bangunrejo di Daerah Kabupaten Lampung Tengah.
  • Dataran alluvial, mencakup kawasan yang sangat luas meliputi Lampung Tengah hingga mendekati pantai sebelah Timur. Ketinggian kawasan ini berkisar antara 25 hingga 75 meter dpl., dengan kemiringan 0% hingga 3%.Dataran rawa pasang surut di sepanjang pantai Timur dengan ketinggian 0,5 hingga 1 meter dpl. 5. Daerah aliran sungai, yaitu Tulang Bawang, Seputih, Sekampung, Semangka, dan Way Jepara.
Dominasi penggunaan lahan berupa belukar dan area hutan seluas 17 ribu km2. Area lahan sawah seluas 601 km2, perkebunan seluas 4.422 km2, sedangkan area pemukiman seluas 3.113 km2.

Penduduk
Masyarakat Lampung terdiri atas berbagai suku antara lain Lampung, Rawas, Melayu, Pasemah dan Semendo. Masyarakat Lampung bentuknya yang asli memiliki struktur hukum adat yang tersendiri, bentuk masyarakat hukum adat tersebut berbeda antara kelompok masyarakat yang satu dengan yang lainnya, kelompok-kelompok tersebut menyebar di berbagai tempat di daerah Lampung. Penduduk pendatang yang menetap di Propinsi Lampung diperkirakan mencapai 84 %. Kelompok etnis terbesar adalah Jawa (30%), Banten/Sunda (20%), Minangkabau (10%), Semendo (12 %). Kelompok etnis lain yang cukup banyak jumlahnnya adalah Bali, Batak, Bengkulu, Bugis, China, Ambon, Aceh, Riau, dan lain-lain. Banyaknya penduduk pendatang ini akibat adanya progam relokasi yang dilakukan sejak tahun 1905 oleh pemerintah kolonial Belanda dengan memindahkan petani dari Bagelan Jawa Tengah dan membangun Kota Wonosobo dan Kota Agung. Kemudian tahun 1932 – 1937 ada pembukaan lahan transmigrasi baru di Kota Metro, Pringsewu, dan berbagai kota lainnya. Program transmigrasi ini terus berlangsung hingga akhir dekade 80-an.
Karakteristik mata pencaharian penduduk pendatang pada umumnya memiliki kekhasan dalam beradaptasi. Sebagai contoh pendatang asal Pati – Jawa Tengah yang semula sebagai petambak lebih memilih usaha tambak di lokasi barunya. Semula mereka berbudidaya bandeng dan jenis ikan lainnya, tetapi seiring dengan
perkembangan tren budidaya udang windu mereka beralih ke jenis yang lebih menguntungkan ini ditambah lagi dengan dukungan dari pihak pemberi modal. Demikian pula dengan pendatang dari etnis Bugis yang terkenal sebagai pelaut lebih memilih menjadi nelayan. Pendatang dari Jawa yang semula petani lebih memilih usaha di bidang pertanian dan perkebunan.

PROFIL KOTA PALEMBANG

Profil Wilayah
Kota Palembang terkenal sebagai kota industri dan kota perdagangan. Posisi geografis Palembang yang terletak di tepian Sungai Musi dan tidak jauh dari Selat Bangka, sangat menguntungkan. Walaupun tidak berada di tepi laut, Kota Palembang mampu dijangkau oleh kapal-kapal dari luar negeri. Terutama dengan adanya Dermaga Tangga Buntung dan Dermaga Sei Lais. Dan juga ditambah lagi dengan adanya Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.Selain itu Kota Palembang terkenal sebagai Kota tua, yang pernah menjadi pusat pendidikan agama Budha. Dan banyak terdapat peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang tersebar di seluruh kota dan sekitarnya, dan situs-situs ini masih belum terurus, seperti Beteng Kuto Besak yang bahkan menjadi polemik karena dijadikan tempat perniagaan.
Kota Palembang yang khas karena dibelah dan dikelilingi Sungai Musi dan anak-anak sungainya, seharusnya lebih tepat menjadi kota sungai (Venice from the East), namun sayangnya pola pembangunan pada era lalu sangat kuat dengan visi penyeragaman, sehingga dibentuk sedemikian rupa menjadi kota daratan sebagaimana kota-kota lain. di Pulau Jawa. Aliran sungai menjadi sempit, bahkan tertutup, rawa-rawa pun ditimbun lalu ketika hujan turun, genangan air dan banjir terjadi di mana-mana. Kurang baiknya penataan kota adalah masalah utama Kota Palembang yang dampaknya membias kemana-mana misalnya masalah sosial seperti maraknya pengemis jalanan, PKL yang sulit ditertibkan, sampai arus lalu lintas yang di beberapa tempat terasa semrawut tidak terlepas dari soal penataan kota yang sejak awal kurang tepat. Akibatnya ketika desakan penduduk dan aktivitas ekonomi menuntut kota dikembangkan semakin pesat, berbagai permasalahan sosialpun muncul.

Orientasi Wilayah
Secara geografis wilayah Kota Palembang berada antara 2º 52’ - 3º 5’ LS dan 104º 37’- 104º52” BT dengan luas wilayah 400,61 Km² dengan batas-batas sebagai berikut :
  • Batas Utara : Kabupaten Banyuasin
  • Batas Selatan : Kabupaten Ogan Komering Ilir
  • Batas Timur : Kabupaten Banyuasin
  • Batas Barat : Kabupaten Banyuasin


Kota Palembang terdiri dari 14 kecamatan seluas 400,61 km2 dengan jumlah penduduk 1451.776 jiwa. Kecamatan dengan luas wilayah terbesar yaitu kecamatan Sukarami (98,56 km2), sedangkan kecamatan dengan luas terkecil yaitu kecamatan 6,5 km2. Kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi terdapat di kecamatan Ilir Timur I (13.882 jiwa/km2), sedangkan kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk terendah yaitu kecamatan Gandus (766 jiwa/km2).

Penduduk
Jumlah penduduk Kota Palembang tahun 2002 sebanyak 1.451.776 jiwa, tersebar pada empat belas kecamatan. Jumlah penduduk terbanyak berada di Kecamatan Ilir Timur II, yaitu sebanyak 178.725 jiwa, sedangkan jumlah penduduk terendah di Kecamatan Gandus sebanyak 52.707 jiwa. Kepadatan penduduk rata-rata Kota Palembang adalah 3.624 jiwa per km2.

Jumat, 03 Juni 2011

PETA KOTA JAKARTA

Kamis, 28 April 2011

PROFIL KOTA PAYAKUMBUH

 Profil   wilayah
Kota Payakumbuh terdiri dari 3  kecamatan yaitu Kecamatan Payakumbuh Barat, Payakumbuh Timur, dan Payakumbuh Utara, seluas 80,43 km2 dengan jumlah penduduk keseluruhan sejumlah 192.442 jiwa. Sumber : Badan Pusat Statistik Kota Payakumbuh, 2003 Kecamatan dengan luas wilayah terbesar yaitu Kecamatan Payakumbuh Barat (33,75 km2) sedangkan kecamatan dengan luas terkecil yaitu Kecamatan Payakumbuh Timur (22,73 km2). Dalam kegiatan pertanian, komoditas yang turut menggerakkan perdagangan berasal dari
kelompok tanaman bahan pangan. Produktivitas padi cukup tinggi di wilayah perkotaan ini. Dari lahan seluas 6.845 Ha, produksi padi mencapai 33.835 ton. Selain dikonsumsi sebagai bahan makanan pokok, beras dimanfaatkan untuk membuat makanan khas daerah. Jenis tanaman lainnya yang cukup berlimpah adalah ubi kayu, pisang, rambutan, ketimun, dan kangkung.
Di sektor peternakan, Payakumbuh termasuk produsen ternak cukup besar di Sumbar. Produksi daging sapi, kerbau, kuda, kambing, ayam, dan itik tahun 2002 lalu mencapai 2,3 juta ton. Sementara produksi telur dari ayam ras, ayam kampung, dan itik mencapai 1,9 juta ton.Kawasan yang mempunyai potensi ekonomi berskala regional dan nasional yang ada di Kota Payakumbuh adalah 1 unit terminal bus skala propinsi yang berlokasi kel. Kubu Gadang dan 1 unit pasar regional yang berlokasi di Jl. Sukarno Hatta ( Kel Parit Rantang). Juga terdapat kawasan wisata sebagai kawasan yang kekhususan skala internasional dan nasional yaitu Ngalau Indah. Kemudian Payakumbuh dilintasi oleh jalan nasional sepanjang 19,42 km, dan terdapat I IPLT berlokasi di sungai Durian, I TPA yang berlokasi di Kel. Kubu Gadang dan 3 IPA yang berlokasi di Batang Tabit, Kamuruncing dan S. dareh.
 
Orientasi wilayah
Secara geografis wilayah Kota Payakumbuh terletak antara 0° 10' sampai 0° 17' LS dan 100° sampai 100° 42' BT dengan luas wilayah 80,43 km2 dengan batas-batas wilayahsebagai berikut :
  • 􀂃 Batas Utara : Kabupaten 50 Kota
  • 􀂃 Batas Selatan : Kabupaten 50 Kota
  • 􀂃 Batas Timur : Kabupaten 50 Kota
  • 􀂃 Batas Barat : Kabupaten 50 Kota


Keadaan topografi kota Payakumbuh bervariasi antara dataran dan berbukit dengan ketinggian 514 meter di atas permukan laut. Kota Payakumbuh dilalui oleh tiga buah sungai yaitu Batang Agam, Batang Lampasi dan Batang Sinama. Payakumbuh tercatat memiliki luas wilayah 80,43 Km2 atau setara dengan 0,19% dari luas wilayah Sumatera Barat, yang terdiri dari 17,3% wilayah yang telah terbangun, bagian yang tidak terbangun digunakan untuk kegiatan pertanian, hutan, perikanan, rawa-rawa dan lain-lain. Suhu udara rata-rata 26 °C dengan kelembaban udara berkisar antara 45-50 %. Curah hujan pada tahun 2001 adalah 1507 mm dengan jumlah hari hujan adalah 85 hari.

Kamis, 21 April 2011

PROFIL KOTA YOGYAKARTA

Profil Wilayah
          Ngayogyakarta Hadiningrat yang didirikan oleh Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwono I) pada tahun 1755 hasil dari Perjanjian Giyanti, di kemudian hari tumbuh menjadi kota yang kaya akan budaya dan kesenian Jawa. Yang menjadi titik sentral dari perkembangan kesenian dan budaya adalah kesultanan. Beragam kesenian Jawa klasik, seperti seni tari, tembang, geguritan, gamelan, seni lukis, sastra serta ukir-ukiran, berkembang dari dalam keraton dan kemudian menjadi kesenian rakyat. Kemudian, kesatuan masyarakat dengan nilai-nilai kesenian seakan telah mendarah daging sehingga Yogyakarta dengan 395.604 jiwa penduduknya seperti tidak pernah kehabisan seniman-seniman handal. Selain pesona budaya, khasanah arsitektur kuno juga memiliki daya magis tersendiri bagi para wisatawan. Sebutlah Istana Air Tamansari, Keraton Yogyakarta, Keraton Pakualaman, Candi Prambanan, dan berbagai museum. Karena dinilai sarat akan kebudayaan, maka Yogyakarta menjadi Daerah Tujuan Wisata (DTW) utama di Indonesia (meski masih dibawah Pulau Bali).
         Salah satu kekayaan lain dari Yogyakarta adalah sekolah. Sejak bedirinya UGM tahun 1949, kota Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar. Termasuk UGM, masih ada 47 perguruan tinggi lain, mulai dari tingkat akademi, institut, politeknik, sekolah tinggi, maupun universitas dengan jumlah mahasiwa mencapai 86.000 orang. Subsektor pendidikan ini merupakan salah satu penyumbang dari sektor jasa-jasa yang pada tahun 2000 lalu bernilai Rp 703 milyar. Keberadaan PT dan mahasiswa memberikan keuntungan tersendiri bagi masyarakat. Hal ini ditandai dengan munculnya berbagai usaha yang berkaitan dengan kehidupan mahasiswa, seperti pemondokan, kedai makan, fotokopi, hingga usaha hiburan seperti rental VCD, games, persewaan komik, boutique, sampai salon-salon kecantikan.
Orientasi Wilayah
Secara geografis, Kota Yogyakarta terletak antara 110º24’19” - 110º28’53” Bujur Timur dan 07º15’24” - 07º49’26” Lintang Selatan. Wilayah kota Yogyakarta dibatasi oleh daerah-daerah seperti:
  • • Batas wilayah utara : Kab.Sleman
  • • Batas wilayah selatan : Kab.Bantul
  • • Batas wilayah barat : Kab.Bantul dan kab.Sleman
  • • Batas wilayah timur : Kab.Bantul dan kab.Sleman


Kota Yogyakarta memiliki kemiringan lahan yang relatif datar antara 0%-3% ke arah selatan serta mengalir 3 buah sungai besar : Sungai Winongo di bagian barat, Sungai Code dibagian tengah dan Sungai Gajahwong dibagian timur. Wilayah Kota Yogayakarta terbagi dalam lima bagian kota dengan pembagian sebagai berikut:
Wilayah I : Ketinggian daerah ini ± 91 m - ± 117 m diatas permukaan laut rata-rata. Yang termasuk dalam wilayah ini adalah :
  • • Sebagian Kecamatan Jetis
  • • Kecamatan Gedongtengen
  • • Kecamatan Ngampilan
  • • Kecamatan Keraton
  • • Kecamatan Gondomanan
Wilayah II : Ketinggian daerah ini ± 97 m - ± 114 m diatas permukaan laut rata-rata. Yang termasuk ke dalam wilayah ini adalah:
• Kecamatan Tegalrejo
• Sebagian Kecamatan Wirobrajan
Wilayah III : Ketinggian daerah ini ± 102 m - ± 130 m diatas permukaan laut rata rata. Yang termasuk ke dalam wilayah ini adalah:
• Kecamatan Gondokusuman
• Kecamatan Danurejan
• Kecamatan Pakualaman
• Sebagian kecil Kecamatan Umbulharjo
Wilayah IV : Ketinggian daerah ini ± 75 m - ± 102 m diatas permukaan laut rata-rata.Yang termasuk ke dalam wilayah ini adalah:
• Sebagian Kecamatan Mergangsan
• Kecamatan Umbulharjo
• Kecamatan Kotagedhe
• Kecamatan Mergangsan
Wilayah V : Ketinggian daerah ini ± 83 m - ± 102 m diatas permukaan laut rata-rata.
Yang termasuk ke dalam wilayah ini adalah;
• Kecamatan Wirobrajan
• Kecamatan Mantrijeron
• Sebagian Kecamatan Gondomanan
• Sebagian Kecamatan Mergangsang
         Wilayah Kota Yogyakarta terdiri dari 14 kecamatan, 45 kelurahan, 617 RW, dan 2532 RT dengan wilayah seluas 32,5 km² atau kurang lebih 1,02% dari luas Wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.Kota Yogyakarta termasuk cekungan bagian bawah dari lereng Gunung Merapi, sebagian besar tanahnya berupa tanah regosol atau vulkanis muda. Sedangkan di Kecamatan Umbulharjo dan sekitarnya jenis tanahnya adalah lempung kepasiran (sandy clay ) dengan formasi geologi batuan sedimen andesit tua (old andesit)/kepasiran.
Karakteristik jenis tanah regosol pada umumnya profil tanah belum berkembang, tekstur tanah kepasiran, geluh, struktur tanah remah gumpal lemah, infiltrasi sedang sampai tinggi dengan solum tebal. Jenis tanah ini mudah meresapkan air permukaan, sehingga dalam kondisi tertentu mampu berfungsi sebagai media perkolasi yang baik bagi

PROFIL KOTA SIDOARJO

 Profil Kota
Kota Sidoarjo merupakan Ibukota Kecamatan Sidoarjo yang terletak di tepi Selat Madura dan termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Sidoarjo, Propinsi Jawa Timur Batas-batas administrasi dari kota Sidoarjo ini adalah:
  • 􀂃 Sebelah utara : Kecamatan Waru
  • 􀂃 Sebelah selatan : Kecamatan Porong
  • 􀂃 Sebelah Timur : Selat Madura
  • 􀂃 Sebelah Barat : Kecamatan Krian


Secara geografis wilayah Kota Sidoarjo memiliki luas wilayah 6.256 Ha. Ditinjau dari Topografi keadaan medan Kota Sidoarjo berada pada ketinggian antara 23 - 32 diatas permukaan laut,

Senin, 18 April 2011

PROFIL KOTA BALIKPAPAN

Profil Wilayah
      Kota Balikpapan terletak 113 km di Barat Daya Ibukota Propinsi Kalimantan Timur, Samarinda. Letaknya yang strategis, pada posisi silang jalur perhubungan nasional dan internasional, berpengaruh pada perkembangan kota sebagai pusat jasa, perdagangan, dan industri yang tidak hanya berskala regional Kalimantan Timur saja, namun juga berkembang sebagai salah satu sentra di Indonesia Tengah. Dengan potensi sumber daya yang besar di sekitar kota, terutama di wilayah hinterland seperti Kabupaten Kutai dan Pasir, maka Kota Balikpapan menjadi daya tarik bagi kegiatan perekonomian. Apalagi dengan keberadaan sarana penunjang Pelabuhan Laut Semayang dan Bandar Udara Sepinggan. Selain itu, Kota Balikpapan sebagai pusat kegiatan eksplorasi minyak dan gas serta batu bara di seluruh Kaltim bahkan juga sebagian wilayah Kalimantan Selatan menjadikan kota ini menampung banyak warga asing yang saat ini tercatat 1.014
orang. Ketertiban, keamanan kebersihan dan kerapian sejak lama menjadi ciri khas kota minyak Balikpapan yang bermoto Kubangun, Kubela dan Kujaga. Kota ini sama sekali tidak seperti dalam benak kebanyakan orang yaitu Pulau Kalimantan yang masih berupa belantara. Meskipun berada persis di pinggir laut, sama sekali tidak tercium aroma busuk laut dan ikan-ikannya. Kota Balikpapan terdiri dari 5 Kecamatan dan 27 Kelurahan.
Orientasi Wilayah
         Secara geografis wilayah Kota Balikpapan berada antara 1.0 LS – 1.5 LS dan 16,5 BT – 117,5 BT dengan luas wilayah 503,35 Km² dengan batas-batas sebagai berikut :
  • �� Batas Utara : Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Penajam PaserUtara
  • �� Batas Selatan : Selat Makassar
  • �� Batas Timur : Selat Makassar
  • �� Batas Barat : Teluk Balikpapan


          Dilihat dari topografinya sekitar 70% wilayah Kota Balikpapan merupakan daerah yangberbukit-bukit, sedangkan sisanya berupa dataran landai yang berada di tepi laut.Perbukitan berada di daerah utara, Kecamatan Balikpapan Barat, Balikpapan Tengah,dan Balikpapan Timur. Daerah ini menjadi daerah penyangga kota, diantaranya hutan lindung kota di Kecamatan Balikpapan Selatan, lokasi konservasi alam di Kecamatan Balikpapan Utara dan Balikpapan Selatan, serta hutan lindung Sungai Wain di wilayah Balikpapan Utara dan Balikpapan Barat. Sedangkan bagian selatan, tepatnya di sepanjang tepi Teluk Balikpapan, terbentang dataran landai di Kecamatan Balikpapan Selatan dan Tengah. Disinilah detak jantung kegiatan perekonomian Kota Balikpapan berdenyut. Pusat perdagangan, pusat jasa, pusat permukiman, bahkan industri pengolahan terutama minyak dan gas bumi terkonsentrasi di wilayah ini.

PROFIL KOTA MOJOKERTO

Kota yang terkenal dengan makanan khas onde ondenya ini menyandang predikat kawasan pemerintahan dengan luas lahan tersempit sekaligus terpadat di Indonesia.  Bagaimana tidak, kota yang berhari jadi tanggal20 Juni 1918 ini hanya memiliki batas administratif seluas 16,46 km² setara dengan ¼ luas areal kota mandiri pertama di Indonesia, Bumi Serpong Damai, sementara penduduknya (2000) sekitar 108.938 jiwa. Berarti kepadatan per km² mencapai  hampir 6.618 jiwa. Di Jawa Timur, kota ini menjadi kota terpadat ke dua setelah  Surabaya. Berdasarkan penggunaan dan kondisi lahan yang ada, Mojokerto mengembangkanwilayahnya dalam tiga bagian, yaitu: barat, timur, dan tengah.
Bagian barat merupakan wilayah yang berkarakteristik pertanian serta
masih bersifat relatif rural. Pengembangan daerah ini berpusat di
Kelurahan Prajurit Kulon.Di sebelah Timur yang berkarakteristik urban, pengembangannya
terpusat di Kelurahan Kedundung.Dan di wilayah tengah yang merupakan jantung kota, pengembangannya
dipusatkan di Kelurahan Mentikan.

Minggu, 17 April 2011

PROFIL KOTA MADIUN

         Kota Madiun yang merupakan ibukota Madiun, Jawa Timur ini memiliki wilayah seluas 33,23 km² dengan jumlah penduduk sebanyak 192.807 jiwa (sensus Penduduk 2000). Kota Madiun merupakan kota transit pada jalur selatan yang menghubungkan kota-kota di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat seperti Surabaya, Jombang, Madiun, Solo, Jogjakarta sampai DKI Jakarta, sehingga kota Madiun sangat cocok dan menarik untuk mengembangkan sektor indsutri, perdagangan, jasa maupun angkutan. Hal ini tampak dari keberadaan sarana dan prasarana di kota Madiun sehingga dapat melayani kepentingan dalam skala regional dan nasional seperti pendidikan, kesehatan serta komoditi hasil produksi industri. Salah satu sarana yang mendukung peranan perekonomian dalam skala regional adalah jaringan jalan yang kondisinya sangat baik untuk menghubungkan kota Madiun, dengan daerah di luar Kota Madiun yaitu Magetan, Nganjuk, Ponorogo, Jombang, Ngawi dan Kediri. \
Profil Wilayah
Secara astronomis terletak di antara 111º29’45”-111º33’30” Bujur Timur dan 7º35’45”- 7º40’ Lintang Selatan. Adapun batas-batas administrasinya adalah sebagai berikut :
  • �� Batas wilayah utara : Kecamatan Sawahan dan Kecamatan Madiun
  • �� Batas wilayah timur : Kecamatan Wungu
  • �� Batas wilayah selatan : Kecamatan Geger
  • �� Batas wilayah barat : Kecamatan Jiwan


      Wilayah Kota Madiun terletak di lembah Sungai Madiun yaitu sekitar 30 km di sebelah selatan pertemuan antara sungai Madiun dengan Sungai Bengawan Solo dan berada pada ketinggian rata-rata 65 m diatas permukaan laut. Perbedaan ketinggian antara bagian wilayah yang satu dengan wilayah yang lainnya sangat kecil dengan kemiringan rata-rata 0-2% atau dapat dikatakan relatif datar. Oleh karenanya, kondisi seperti itu merupakan potensi besar untuk pengembangan fisik kota.
         Struktur geologi Kota Madiun sebagian besar termasuk jenis alluvium sedangkan jenis tanahnya termasuk luvial yang mempunyai kadar mineral dan organisme yang cukup tinggi. Hal ini disebabkan jenis tanah tersebut merupakan campuran dari  tanah liat dengan pasir halus yang berwarna hitam kelabu dengan daya penahan air yang cukup baik dan dapat menyerap air.. Kota Madiun secara fisik dibagi oleh sungai Madiun yang embujur dari arah utaraselatan, menjadi dua bagian.Selain itu terdapat pula anak-anak Sungan Madiun yaitu Sungai Catur dan Sungai Sono yang merupakan saluran irigasi lahan pertanian di wilayah kota. Untuk sumber air yang ada yaitu sumber air dangkal dengan kedalaman sekitar 8 meter dari muka air tanah, sedangkan sumber air artesis terdapat pada kedalaman kurang lebih 90 meter. 
         Kota Madiun beriklim tropis dengan temperatur harian rata-rata 24-32ºC dan mempunyai curah hujan -rata pertahun sekitar 100 hari dan besarnya curah hujan 2000 mm pertahun. Pada umumnya dalam setahu terjadi 4-5 bulan kering dan 2-3 bulan lembah serta 5-6 bulan basah. Arah mata angin di Kota Madiun dari arah selatan ke utara rata-rata 78%. Kota Madiun merupakan daerah urban sehingga dominasi penggunaan tanahnya adalah untuk kawasan terbangun yang tediri dari perumahan, fasilitas umum dan linnya. Luas kawasan terbangun ini pada tahun 2000 mencapai 55% dari luas keseluruhan atau sekitar 1.860,323 ha.Kota

Sabtu, 16 April 2011

PROFIL KOTA SINGARAJA

         Kota Singaraja merupakan bagian dari wilayah administrasi Kabupaten Buleleng. Berdasar pengamatan di lapangan, pola permukiman di kota Singaraja ini telah mengarah  pada perkotaan dengan tingkat heterogenitas
yang cukup tinggi.  Batas-batas administratif kota Singaraja adalah :
  • • Sebelah Utara : Laut Bali
  • • Sebelah Selatan : desa Gitit
  • • Sebelah Timur : desa Kerobokan
  • • Sebelah Barat : Desa Pemaron


Orientasi Wilayah
          Secara geografis kota Singaraja terletak di 8º3’40” - 8º23’00” LS dan 114º25’55” - 115º27’28” BT. Secara administratif, Kota Singaraja terbagi menjadi 18 kelurahan dan 1 desa, yaitu  kelurahan Banyuasri, kelurahan Kaliuntu, kelurahan Kampung Anyar, kelurahan Kampung Bugis, kelurahan Kampung Kajanan, kelurahan Kampung baru, kelurahan  Banjar Bali, kelurahan Banjar Jawa, kelurahan Banyuning, kelurahan Astina, kelurahan Kencdran, kelurahan Singaraja, kelurahan Liligundi, kelurahan Paket agung, kelurahan Banjar Tegal, kelurahan Bratan, kelurahan Penarukan, kelurahan Sukasada, Desa Baktiseraga. Kondisi topografi di wilayah Singaraja ini berada pada ketinggia antara 10-500 m dpl dengan morfologi lahan dataran yang memiliki sudut lereng 0-5% pada ketinggian 0- 40 m dan perbukitan dengn sudut lereng 5-30% pada ketinggian 40-1400 m. Bila ditinjau secara geologis, wilayah ini merupakan perlapisan batuan hasil letusan  gunung berapi yang terjadi pada masa yang berlainan. Batuan tersebut pada umumnya terdiri dari breksi, lava dan tufa kecuali sepanjang pantai Utara yang tersusun dari endapan alluvial. Sedangkan jenis tanah pada wilayah ini adalah tanah Regosol dengan tekstur sabagian besar dalam kategori tekstir sedang. Secara klimatologisnya, di daerah pantai minimla 1.250 mm dan di daerah  pegunungan maksimal 2.500 mm.
          Luas seluruh wilayah Kota Singaraja adalah 27,89 km2 pada tahun 2002 yang terdiri dari lahan sawah seluas 844,15 km2, tegal/huma seluas 464,46 km2, perkebunan seluas 121 km2, pekerangan seluas 1063,46 km2, Kuburan seluas 6,61 km2 dan lainlain seluas 216,09 km2.

PROFIL KOTA MAKASSAR

Profil  Wilayah
Kota Makassar merupakan kota terbesar keempat di Indonesia dan   terbesar di Kawasan Timur Indonesia memiliki luas areal 175,79 km2 dengan penduduk 1.112.688, sehingga kota ini sudah menjadi kota Metropolitan. Sebagai pusat pelayanan di KTI, Kota Makassar berperan sebagai pusat perdagangan dan jasa, pusat kegiatan industri, pusat kegiatan pemerintahan, simpul jasa angkutan barang dan penumpang baik darat, laut maupun udara dan pusat  pelayanan pendidikan dan kesehatan.
Secara administrasi kota ini terdiri dari 14 kecamatan dan 143  kelurahan. Kota ini berada pada  ketinggian antara 0-25 m dari  permukaan laut. Penduduk KotaMakassar pada tahun 2000 adalah 1.130.384 jiwa yang terdiri dari lakilaki  557.050 jiwa dan perempuan 573.334 jiwa dengan pertumbuhan rata-rata 1,65 %. Masyarakat Kota Makassar terdiri dari beberapa etnis yang hidup berdampingan secara damai seperti Etnis Bugis, etnis Makassar, etnis Cina, etnis Toraja, etnis Mandar dll. Kota dengan populasi 1.112.688 jiwa ini, mayoritas penduduknya beragama Islam. Dalam sejarah  perkembangan Islam,
Rumah Adat Suku Toraja
 Makassaradalah kota kunci dalam penyebaran agama Islam ke Kalimantan, Philipina Selatan,NTB dan Maluku. Munculnya kasus SARA di Ambon -- Maluku dan Poso padabeberapa tahun terakhir ini, tidak terlepas dari peran strategis Makassar sebagai kotapintu di wilayah Timur Indonesia. Kekristenan di Makassar dalam beberapa tahun terakhir ini sering menjadi sasaran serbuan.Kota makassar disamping sebagai daerah transit para wisatawan yang akan menuju ke Tana Toraja dan daerah-daerah lainnya, juga memiliki potensi obyek wisata seperti : Pulau Lae-lae, Pulau Kayangan, Pulau Samalona, Obyek wisata peninggalan sejarah lainnya seperti: Museum Lagaligo, Benteng Somba Opu, Makam Syech Yusuf, makam Pangeran Diponegoro, Makam Raja-raja Tallo, dan lain-lain. Fasilitas penunjang tersedia jumlah hotel 95 buah dengan jumlah kamar 3.367 cottage wisata sebanyak 76 buah, selain itu juga terdapat obyek wisata Tanjung Bunga yang potensial.
Orientasi Wilayah
Secara geografis Kota Metropolitan Makassar terletak di pesisir pantai barat Sulawesi Selatan pada koordinat 119°18'27,97" 119°32'31,03" Bujur Timur dan 5°00'30,18" -  5°14'6,49" Lintang Selatan dengan luas wilayah 175.77 km2 dengan batas-batas berikut :
  • �� Batas Utara : Kabupaten Pangkajene Kepulauan
  • �� Batas Selatan : Kabupaten Gowa
  • �� Batas Timur : Kabupaten Maros
  • �� Batas Barat : Selat Makasar


Secara administrasi Kota Makassar terbagi atas 14 Kecamatan dan 142 Kelurahan dengan 885 RW dan 4446 RT  Ketinggian Kota Makassar bervariasi antara 0 - 25 meter dari permukaan laut, dengan suhu udara antara 20° C sampai dengan 32° C. Kota Makssar diapit dua buah sungai  yaitu: Sungai Tallo yang bermuara disebelah utara kota dan Sungai Jeneberang  bermuara pada bagian selatan kota.

PROFIL KOTA BONTANG

Profil Wilayah
        Kota Bontang terletak 150 km di utara Samarinda. Dengan wilayah yang relatif kecil dibandingkan kabupaten lainnya di Kalimantan Timur (406,70 km²), Bontang memegang peranan  yang cukup penting dalam pembangunan Kaltim  maupun nasional. Karena di kota yang berpenduduk sekitar 110.000 jiwa ini, terdapat dua perusahaan raksasa internasional yaitu PT  Badak NGL di Bontang Selatan dan PT Pupuk Kaltim di Bontang Utara. Kota Bontang secara administratif dikembangkan sebagai Daerah Otonom Kota sejak tahun 1999, setelah sebelumnya berada dalam wilayah administrasi Kabupaten Kutai Kertanegara. Letaknya tergolong strategis, pada poros jalan Trans-Kalimantan serta dilalui jalur pelayaran Selat Makassar sehingga menguntungkan dalam mendukung interaksi wilayah Kota Bontang dengan wilayah luar Kota Bontang.
         Secara keseluruhan, luas Kota Bontang mencapai 49.752,56 Ha, dimana sebagianbesar merupakan wilayah perairan, sementara luas wilayah daratan sekitar 29% atau14.870 Ha.
Dari diagram di atas, khususnya jenis penggunaan lahan untuk wilayah daratan Kota Bontang memperlihatkan pembagian guna lahan yang secara umum terdiri dari 3  jenis penggunaan: Hutan Lindung & Pertanian, Kawasan Industri, serta Areal terbangun Perkotaan. Adapun penggunaan lahan wilayah daratan Kota Bontang yagn mencakup areal seluas 147,80 km² terdiri dari :
• Kawasan Hutan Lindung/TNK : 9.025 Ha (11,96%)
• Kawasan PT Badak NGL.Co : 1.527 Ha (3,15%)
• Kawasan PT.Pupuk Kaltim : 2.010 Ha (4,04%)
• Areal efektif untuk pembangunan : 1.950 Ha (10,56%)
Orientasi Wilayah
         Secara astronomis, Kota Bontang berada dalam posisi 117º 23' - 117 º 38' Bujur Timur, serta 0 º 01' - 0 º 14' Lintang Utara. Secara administratif, Kota Bontang  semula merupakan kota administratif dari Kabupaten Kutai dan menjadi Daerah Otonomiberdasarkan UU No.47 tahun 1999 tentang pemekaran propinsi dan  kabupaten, terbagi atas 2 Kecamatan, yaitu Bontang Utara dan Bontang Selatan.  Untuk kecamatan Bontang Utara terdiri dari 4 desa yaitu desa Lok Tuan, desa  Bontang Baru, desa Bontang Kuala dan desa Belimbing. Sedangkan untuk kecamatan Bontang Selatan terdiri dari 5 desa yaitu desa Sekambing, desa Brebaspantai, Desa Brebes Tengah, Desa Tanjung Laut dan desa Satimpo. Adapun batasan wilayah administratif kota adalah sebagai berikut:
  • • Sebelah Utara : Kec. Sangatta - Kabupaten Kutai Timur
  • • Sebelah Timur : Selat Makassar
  • • Sebelah Selatan : Kec. Marangkayu - Kabupaten Kutai Kertanegara
  • • Sebelah Barat : Kec. Sangatta - Kabupaten Kutai Timur


          Wilayah Kota Bontang didominasi oleh permukaan tanah yang datar, landai, dan sedikit berbukit dengan ketinggian antara 0 - 106 m di atas permukaan laut, dengan kemiringan lereng sebagian besar antara 2-40% dengan luas 7.211 Ha. Mayoritas wilayah (48 %) menempati kawasan pinggir pantai yang relatif datar, sehingga relief  Kota Bontang terlihat mendatar di wilayah pantai, dan bergerak membukit dan bergelombang dari bagian Selatan ke arah Barat.
         Kota Bontang diapit oleh hutan lindung di sebelah Barat dan Selatan, serta Taman  Nasional Kutai di sebelah Utara. Karenanya, tidak heran bila penggunaan lahan untuk hutan belukar tergolong luas, mencapai 3.575 Ha. atau sekitar 24 % dari luas wilayah daratan. Luas lahan pertanian di Kota Bontang mencapai 5.400 Ha atau sekitar 36,5 % dari luas daratan, terdiri dari lahan potensial yang belum dimanfaatkan sebesar  3.150 Ha, serta lahan fungsional pertanian dan peternakan sebesar 2.250 Ha.

PROFIL KOTA GORONTALO

Perindustrian di Kota Gorontalo masih lebih terkonsentrasi pada industri kerajinan berskala kecil dan menengah yang merupakan bidang yang banyak ditekuni oleh sebagian masyarakat Kota Gorontalo dalam menunjang kelangsungan hidupnya. Beberapa komoditi hasil industri kerajinan yang telah dikenal sebagai salah satu produk khas Gorontalo diantaranya adalah industi kerajinan meubel rotan dan kerajinan sulaman krawang tradisional “KARAWO” yang telah dikenal luas bahkan  menjadi icon industri kecil Gorontalo.
Sampai sejauh ini Kota Gorontalo memiliki kekhasan dalam bidang pertanian .Kekhasan ini dapat dilihat pada
keberadaan lahan persawahan disebagian wilayah kota yang mungkin di daerah lain sukar untuk dapat ditemui. Namun sebagai konsekuensi dari status yang disandang Kota Gorontalo sebagai ibukota Propinsi saat ini, maka luasan areal pesawahan yang ada tersebut dari waktu ke waktu cenderung makin berkurang. Salah satu bidang yang pada masa akan datang diharapkan mampu memberi kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian di Kota Gorontalo adalah bidang pariwisata. Pengembangan bidang ini tentunya sangat terkait engan keberadaan objek-objek pariwisata dan daya tariknya terhadap para wisatawan, baik wisatawan lokal, nusantara maupun wisatawan mancanegara.  Beberapa objek wisata yang telah dikembangkan di Kota Gorontalo diantaranya adalah objek wisata alam dan objek wisata budaya sekaligus perpaduan antara keduanya.
Kota Gorontalo terdiri dari 5 kecamatan yaitu Kecamatan KotaBarat, Dungingi, Kota Selatan, Kota Timur, dan Kota Utara seluas 64,79  km2 dengan jumlah penduduk   keseluruhan sejumlah 147.354 jiwa. Sumber : Badan Pusat Statistik Kota gorontalo, 2003
Kecamatan dengan luas wilayah terbesar yaitu Kecamatan Kota Utara (16,71 km2)sedangkan kecamatan dengan luas terkecil yaitu Kecamatan Dungingi (4,10 km2).  Penggunaan lahan di Kota Gorontalo dibedakan atas lahan sawah, lahan kebun/ladang, lahan pekarangan, dan lainnya. Lahan yang digunakan masing masing 1.013 Ha, 695 Ha, 452 Ha, dan 39,74 Ha untuk lainnya pada tahun 2003.
Secara geografis wilayah Kota Gorontalo terletak
antara 00º 28’ 17” - 00º 35’ 56” Lintang Utara (LU) dan 122º 59’ 44” - 123º 05’ 59” Bujur Timur (BT) dengan luas wilayah 64,79 km² dengan batas-batas sebagai berikut :
  • �� Batas Utara : Kecamatan Tapa Kabupaten Bone Bolango
  • �� Batas Timur : Kecamatan Kabila Kabupaten Bone Bolango
  • �� Batas Selatan : Teluk Tomini
  • �� Batas Barat : Kecamatan Telaga dan Batudaa Kabupaten Gorontalo


Kota Gorontalo merupakan salah satu wilayah yang berbatasan langsung dengan daerah Kabupaten Gorontalo, daerah Kabupaten Bone Bolango dengan luas wilayah sekitar 0,53% dari luas Propinsi Gorontalo dengan 46 desa/kelurahan.  Curah hujan di wilayah ini tercatat sekitar 11 mm  sampai dengan 266 mm pada tahun 2003. Secara umum, suhu udara di Gorontalo rata-rata siang hari 32,1º C, sedangkan suhu udara rata-rata pada malam hari 23,5º C. Kelembaban udara relatif tinggi dengan rata-rata 79,9%. Sungai-sungai yang mengalir di wilayah ini ada 3 sungai, yaitu Sungai Bone, Sungai Bolango, dan Sungai Tamalate.

PROFIL KOTA CIMAHI

Profil Wilayah
Cimahi menyandang peran sebagai daerah penyangga bagi Kota Bandung yang berjarak sekitar 12 km di sebelah barat. Terutama menjadi tempat bermukimnya para  pekerja yang mencari nafkah di Kota Bandung. Kota Cimahi juga merupakan markas dari 31 kesatuan tentara dan polisi. Pusatpusat pendidikan militer bisa dijumpai di kota ini, mulai dari brigade infanteri, artileri medan, sampai pasukan kavaleri.
Kota Cimahi terdiri dari 3 kecamatan yaitu Kecamatan Cimahi Utara,  Cimahi Tengah, dan Cimahi Selatan seluas 40,25 km2 dengan jumlah penduduk keseluruhan sejumlah 452.390 jiwa, dan 15 kelurahan.
Kecamatan dengan luas wilayah terbesar yaitu Kecamatan Cimahi Selatan (16,02 km2) sedangkan kecamatan dengan luas terkecil yaitu Kecamatan Cimahi Tengah (10,87 km2). Secara geografis, wilayah ini merupakan lembah cekungan yang melandai ke arah selatan, dengan ketinggian di bagian utara ±1.040 meter dpl (Kelurahan Ciparegan Kecamatan Cimahi Utara) yang merupakan lereng Gunung Burangrang dan Gunung Tangkuban Perahu serta ketinggian di bagian selatan sekitar ±685 dpl (di KelurahanMelong Kecamatan Cimahi Selatan) yang mengarah ke Sungai Citarum. Sungai yang melalui Kota Cimahi adalah Sungai Cimahi dengan debit air rata-rata 3,830 l/dt, dengan anak sungainya ada lima yaitu Kali Cibodas, Ciputri, Cimindi, Cibeureum (masing-masing di bawah 200 l/dt) dan Kali Cisangkan (496 l/dt),sementara itu mata air yang terdapat di Kota Cimahi adalah mata air Cikuda dengandebit air 4 l/dt dan mata air Cisintok (93 l/dt). Potensi wilayah yang terdapat di kota ini dari sektor pertanian, yaitu tanaman padi sawah dan jagung yang lebih dominan di Kecamatan Cimahi Utara, sedangkan komoditi lainnya seperti ubi kayu, ubi jalar berada di Cimahi Tengah. Rata-rata produksi untuk beberapa komoditi di Cimahi Tengah kecuali jagung berada di Cimahi Selatan.
Orientasi Wilayah
Secara geografis wilayah Kota Cimahi berada antara 107º 30’ 30” BT - 107º 34’ 30” BT dan 6º 50” 00” - 6º 56” 00” Lintang Selatan dengan luas wilayah 40,25 km2 dengan batas-batas sebagai berikut :
  • �� Batas Utara : Kabupaten Bandung
  • �� Batas Selatan : Kabupaten Bandung
  • �� Batas Timur : Kota Bandung 
  • �� Batas Barat : Kabupaten Bandung


PROFIL KOTA KENDARI

Profil  Wilayah
       Wilayah Kota Kendari dengan ibu kotanya Kendari dan sekaligus juga sebagai ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara secara geografis terletak di bagian Selatan Garis Khatulistiwa berada di antara 3o 54` 30``- 4o 3` 11`` Lintang Selatan dan membentang dari Barat ke Timur diantara 122o 23`- 122o 39` Bujur Timur.
Sepintas tentang letak wilayah Kota Kendari
  • sebelah Utara berbatasan  dengan Kecamatan Soropia, 
  • Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Kendari,
  • sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Moramo dan Kecamatan Konda,
  • sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Ranomeeto dan Kecamatan Sampara.
        Kota Kendari terbentuk dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1995 yang disyahkan pada tanggal 3 Agustus 1995 dengan status Kotamadya Daerah Tk. II Kendari. Wilayah Kota Kendari terletak di jazirah Tenggara Pulau Sulawesi. Wilayah daratannya sebagian besar terdapat di daratan Pulau Sulawesi mengelilingi Teluk
         Kendari dan terdapat satu pulau yaitu Pulau Bungkutoko. Luas wilayah daratan Kota Kendari 295,89 Km2 atau 0,70 persen dari luas daratan Provinsi Sulawesi Tenggara. Luas wilayah menurut Kecamatan sangat beragam, Kecamatan Poasia merupakan wilayah kecamatan yang paling luas, kemudian menyusul Kecamatan Abeli, Kecamatan Puwatu, Kecamatan Baruga, Kecamatan Kambu, Kecamatan Mandonga, Kecamatan Kendari Barat, Kecamatan Kendari, Kecamatan Wua- Wua, dan Kecamatan Kadia Sebagaimana daerah-daerah lain di Indonesia, Kota Kendari hanya dikenal dua musim yakni Musim Kemarau dan Musim Hujan. Keadaan musim sangat dipengaruhi oleh arus angin yang bertiup di atas wilayahnya. Sekitar bulan April, arus angin selalu tidak menentu dengan curah hujan yang tidak merata. Musim ini dikenal sebagai musim Pancaroba atau Peralihan antara musim Hujan dan musim Kemarau. Pada bulan Mei sampai dengan bulan Agustus, angin bertiup dari arah timur berasal dari Benua Australia yang kurang mengandung uap air. Hal ini mengakibatkan kurangnya curah hujan didaerah ini. Pada bulan Agustus sampai dengan bulan Oktober terjadi musim Kemarau. Kemudian pada bulan November sampai dengan bulan Maret, angin bertiup banyak mengandung uap air yang berasal dari Benua Asia dan Samudera Pasifik, setelah melewati beberapa lautan. Pada bulan-bulan tersebut di wilayah Kota Kendari dan sekitarnya biasanya terjadi musim Hujan. Menurut data yang ada memberikan indikasi bahwa di Kota Kendari tahun 2006 terjadi 159 hh dengan curah hujan 1.747 mm. Suhu udara dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Perbedaan ketinggian dari permukaan laut, daerah pegunungan dan daerah pesisir mengakibatkan keadaan suhu yang sedikit beda untuk masing-masing tempat dalam suatu wilayah. Secara keseluruhan, wilayah Kota Kendari merupakan daerah bersuhu tropis. Menurut data yang diperoleh dari Pangkalan Udara Wolter Monginsidi Kendari, selama tahun 2006 suhu udara maksimum 33,25 oC dan minimum 20,00  oC. Tekanan Udara rata-rata 1.009,6 millibar dengan kelembaban udara rata-rata 74,92 persen. Kecepatan angin di Kota Kendari selama tahun 2006 pada umumnya berjalan normal, mencapai 3,92 m/detik

PROFIL KOTA MAGELANG

Profil  daerah
          Kota Magelang secara Geografis terletak pada posisi 7º 26’ 18” - 7º 30’ 9” Lintang Selatan dan 110º 12’ 30” - 110º 12’ 52” Bujur Timur. Posisi ini apabila dilihat dari letak Pulau Jawa sangat menguntungkan sekali karena memposisikan Kota Magelang hampir di tengah-tengah pulau ini.  Kondisi ini akan sangat memudahkan jalur perhubungan dengan kota-kota di sekitarnya, seperti dengan Kota Semarang berjarak 75 km, jarak dengan  Kota Yogyakarta 42 km, dengan Kota Surakat berjarak 109 km. Selain itu  Kota Magelang juga terletak pada jalur transportasi Semarang - Purwokerto, Wonosobo - Salatiga dan Kota - kota di sekitarnya.Sebagai Kota Jasa Kota Magelang juga menjadi daerah tujuan bagi  penduduk sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti dari Kabupaten Temanggung yang berjarak 22 km, Kabupaten Purworejo  berjarak 43 km, Kabupaten Wonosobo berjarak 62 km. Jarak yang relatif dekat ini juga didukung dengan kondisi prasarana jalan yang sangat  memadai dalam kemudahan untuk mengaksesnya. Secara umum Kota Magelang berada pada ketinggian 380 m di atas  permukaan laut dengan titik ketinggian tertinggi pada Gunung Tidar yaitu 503 m di atas permukaan laut. Keberadaan Gunung Tidar ini selain sebagai
kawasan hutan lindung juga berfungsi sebagai paru-paru Kota yang menjadikan iklim Kota Magelang selalu berhawa sejuk.
Secara administrasi Kota Magelang dikelilingi oleh Wilayah Kabupaten Magelang, dengan batas-batas :
  • • Sebelah Utara : Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang
  • • Sebelah Timur : Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang
  • • Sebelah Selatan : Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang
  • • Sebelah Barat : Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang


          Selain berbatasan dengan wilayah tersebut di atas, Kota Magelang juga dibatasi dengan batas alam berupa Sungai Elo di sebelah Timur dan  Sungai Progo untuk batas di sebelah Barat. DDA 2006 I - 2 Sebagai Kota terkecil di Jawa Tengah yang hanya 0,06% dari  keseluruhan luas Propinsi Jawa Tengah, Kota Magelang mempunyai luas wilayah 18,12 km². Dari luas tersebut terbagi menjadi 2 kecamatan dan 14 kelurahan yang rata-rata luasnya wilayahnya kurang dari 2 Km². Kelurahan dengan wilayah terluas dimiliki oleh Kelurahan Jurangombo yaitu sebesar 3,295 Km² atau 18 % dari Luas Wilayah Kota Magelang dan Kelurahan Panjang memiliki luas wilayah yang terkecil diantara kelurahan-kelurahan lainnya yaitu seluas 0,452 Km² atau 2 % dari luas Wilayah Kota Magelang  yang ada. Sebagai Kota yang dikenal berhawa sejuk, pada Tahun 2006 jumlah
curah hujan di Kota Magelang sebanyak 70,95 mm dengan rata-rata curah  hujan 7,10 mm. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Maret yaitu sebanyak 15,40 mm dan curah hujan terendah terjadi pada bulan Agustus yaitu sebanyak 0,50 mm. Sedangkan rata-rata hujan di Kota Magelang pada tahun 2006 sebanyak 0,2 hari. Jumlah hujan terbanyak terjadi pada bulan Februari sampai dengan bulan April, sebaliknya jumlah hujan terkecil  terjadi pada Bulan Januari dan Mei sampai dengan Bulan Desember

PROFIL KOTA DEPOK

Profil Wilayah
Salah satu penyebab Kota ini berkembang pesat seperti sekarang adalah setelah adanya keputusan untuk memindahkan sebagian besar kegiatan akademis Universitas Indonesia ke Depok yang menempati areal seluas 318 hektar pada tanggal 5 September 1987. Sebelumnya lahan hijau Kota Depok yang berfungsi sebagai konservasi air masih sangat luas. Jumlah penduduknyapun masih di bawah 700.000  jiwa.  Sebelumnya, pertumbuhan penduduk Depok yang pesat dipicu dengan dijadikannya wilayah Depok sebagi proyek percontohan perumnas berskala besar pada pertengahan 1970-an. Depok kini menjadi kota besar, padahal pada mulanya daerah ini direncanakan dihuni tidak lebih dari 800.000 jiwa pada tahun 2005. Namun pada tahun 2002 lalu jumlah penduduk Depok sudah mencapai 1,2 juta jiwa.
Orientasi Wilayah
Wilayah Kota Depok dengan luas wilayah 200,29 Km² memiliki batas-batas sebagai berikut :
  • �� Batas Utara : Kabupaten Tangerang dan DKI Jakarta
  • �� Batas Selatan : Kabupaten Bogor
  • �� Batas Timur : Kota Bekasi dan Kabupaten Bogor
  • �� Batas Barat : Kabupaten Bogor


Saat ini perbandingan lahan terbuka hijau dengan kawasan terbangun yang terdiri dari permukiman, perkantoran, dan sarana kota lainnya adalah 55:45. sampai tahun 2010, Pemkot Depok mengalokasikan 50 % areal kotanya untuk kawasan terbangun dan mempertahankan 50 % sebagai lahan terbuka hijau. Di sekitar lahan terbuka tersebut  pemanfaataan untuk permukiman hanya diperbolehkan 35-40 %. Kawasan yangditetapkan untuk mempertahankan konservasi air tanah adalah Kecamatan Limo,Cimanggis, dan Sawangan.

PROFIL KOTA SORONG

Profil Wilayah
            Nama Sorong berasal dari kata soren.Soren dalam bahasa Biak Numfor yang berarti laut yang daIam dan bergelombang. Kata Soren digunakan pertama kali oleh suku Biak Numfor yang berlayar pada zaman dahulu dengan perahu-perahu layar dari satu pulau ke pulau lain hingga tiba dan menetap di Kepulauan Raja Ampat. SukuBiak Numfor inilah yang memberi nama " Daratan Maladum" dengan sebutan  SOREN yang kemudian dilafalkan oleh  para pedagang Thionghoa, Misionaris clad  Eropa, Maluku dan Sanger Talaut dengan sebutan Sorong.  
          Kota Sorong dikenal dengan istilah Kota Minyak sejak masuknya para surveyor  minyak bumi dari Belanda pada tahun 1908. Kota Sorong terkenal sebagai salah satu  kota dengan Atribut peninggalan sejarah
Heritage Nederlands Neuw Guinea Maschcapeij (NNGPM) atau kota yang penuh dengan sisa-sisa peninggalan sejarah bekas perusahaan minyak milik Belanda. Kota Sorong sangatlah strategis karena merupakan pintu keluar masuk Provinsi Papua dan Kota Persinggahan. Kota Sorong juga rnerupakan Kota industri, perdagangan dan jasa,karena Kota Sorong dikelilingi oleh Kabupaten - Kabupaten yang mempunyai Sumber DayaAlam yang sangat potensial sehingga membuka peluang bagi investor dalam maupun luar
negeri untuk menanamkan modalnya.
         Kota Sorong pada mulanya merupakan salah satu kecamatan yang dijadikan pusat pemerintahan Kabupaten Sorong. Namun daIam perkembangannya telah mengalami perubahan sesuai Peraturan Pemerintah No. 31 Tahun 1996 tanggal 3 Juni 1996 menjadi Kota Administratif Sorong. Selanjutnya berdasarkan Undang-Undang no. 45 Tahun 1999 Kota Administratif Sorong ditingkatkan statusnya rnenjadi daerah otonom sebagai Kota Sorong.Kemudian pada tanggal 12 Oktober 1999 bertempat di Jakarta dilaksanakan pelantikan Pejabat Walikota Sorong Drs. J. A. Jumame dan selanjutnya secara resmi Kota Sorong terpisah dari Kabupaten Sorong pada tanggal 28 Februari 2000.
           Kota Sorong disamping sebagai Kota persinggahan dan pintu gerbang Provinsi Papua, Kota Sorong juga sebagai Kota Industri, Perdagangan dan Jasa. Perpaduan nilai-nilai peninggalan sejarah dan keaslian alami serta keunikan Kota Sorong yang memiliki Water Front View atau  Kota dengan pemandangan laut serta perpaduan panorama, bentangan alam Pulau Waigeo,  Batanta dan Salawati yang merupakan satu gugusan kepulauan Raja Ampat. Serta fasilitas jasa pelayanan umum, yang cukup lengkap memberikan kesan dan daya tarik kepada pengunjung yang ingin mendapatkan pengalaman baru setelah berwisata ke Kota Sorong
       Kong terkenal dengan NNGPM ( Nederlands Neauw Guinea Petroleum Matschcapeij) atau kota yang penuh dengan sisa-sisa Peninggalan sejarah bekas perusahaan minyak milik  Belanda. Perusahaan NNGPM muIai melakukan aktivitas pengeboran minyak bumi di Sorong sejak Tahun 1935. Peninggalan bersejarah perusahaan tersebut adalah Pelabuhan Eksport Minyak Bumi, beberapa tangki penampung minyak, rumah tinggal karyawan, bekas barak karyawan. Bekas sekolah teknik (Voc School)
Orientasi Wilayah
Secara geografis, Kota Sorong berada pada koordinat 131°51' BT dan 0° 54' LS dengan luas wilayah 1.105 km2. . Wilayah kota ini berada pada ketinggian 3 meter dari permukaan laut dan suhu udara minimum di Kota Sorong sekitar 23, 1 ° C dan suhu udara maximum sekitar 33, 7 ° C. Curah hujan tercatat 2.911 mm. Curah hujan cukup merata sepanjang tahun . Tidak terdapat bulan tanpa hujan, banyaknya hari hujan setiap bulan antara 9 - 27 hari. Kelembaban udara rata-rata tercatat 84 %. Batas-batas geografis Kota Sorong adalah sebagai berikut :
  • Sebelah Barat : Selat Dampir
  • Sebelah Utara : Distrik Makbon & Selat Dampir
  • Sebelah Timur : Distrik Makbon
  • Sebelah Selatan : Distrik Aimas dan Distrik Salawati Kabupaten Sorong


Luas Kota Sorong adalah 1.105 Km2 terdiri dari 4 Distrik dan 20 Kelurahan yaitu :
1. Distrik Sorong membawahi :
  • �� Kelurahan Klademak
  • �� Kelurahan Remu Utara
  • �� Kelurahan Kialigi
  • �� Kelurahan Kampung Baru
  • �� Kelurahan Malawei
2. Distrik Sorong Timur membawahi :
  • �� Kelurahan Remu Selatan
  • �� Kelurahan Malanu
  • �� Kelurahan Klasaman
  • �� Kelurahan Klagete
  • �� Kelurahan Klawuyuk
  • �� Kelurahan Malaingkedi
3. Distrik Sorong Barat membawahi :
  • �� Kelurahan Klawasi
  • �� Kelurahan Rufei
  • �� Kelurahan Tanjung Kasuari
  • �� Kelurahan Saoka
  • �� Kelurahan Klabala
4. Distrik Kepulauan membawahi :
  • �� Kelurahan Dum Timur
  • �� Kelurahan Dum Barat
  • �� Kelurahan Soap
  • �� Kelurahan Raam 
          Keadaan topografi Kota Sorong sangat bervariasi terdiri dari pegunungan, lereng, bukit-bukit dan sebagian adalah dataran rendah, sebelah timur di kelilingi hutan lebat yang merupakan  hutan lindung dan hutan wisata.Keadaan geologi Kota Sorong terdapat hamparan galian golongan C seperti batu gunung, batu kaIi, sirtu, pasir, tanah urug dan kerikil. Sedangkan jenis tanah yang terdapat di Kota Sorong adalah tanah latosal putih yang terdapat di pinggiran pantai Tanjung Kasuari dan tanah fudsolik merah kuning yang terdapat dihamparan seluruh kawasan Distrik Sorong Timur. Keadaan permukaan Kota Sorong yang terdiri dari gunung, buki-bukit dan dataran yang rendah yang ditandai dengan jurang, dan wilayah ini dialiri sungai-sungai sedang, kecil seperti sungai Rufei, sungai Klabala, sungai Duyung, sungai Remu, sungai Klagison, sungai Klawiki, sungai Klasaman dan sungai Klabtin. Fasilitas penunjang wisata lainnya tahun 2003 adalah taman rekreasi pantai Tanjung Kasuari dengan pesona pasir putihnya, Pulau Raam, Pulau Soop dan Pulau Doom yang terkenal dengan pantainya yang indah. Juga pulau Dofior yang terdapat Tugu Selamat Datang di Kota  Sorong dengan menggunakan bahasa Moi ( suku asli di Kota Sorong) yang ramah dan bersahabat menyambut pengunjung yang datang di Kota Sorong. Juga tembok Dofior yang terkenal dengan pemandangan panorama lout dan keindahan alam menjelang senja.