Selasa, 12 April 2011

PROFIL KOTA MATARAM

Mataram selain dikenal sebagai ibu kota Propinsi Nusa Tenggara Barat juga dikenal sebagai ibu kota Pemda Kota Mataram.Kota Mataram yang letaknya sangat strategis dan menjadi pusat berbagai aktifitas seperti pusat pemerintahan, pendidikan,perdagangan, industri dan jasa, saat ini sedang dikembangkan untuk menjadi kota pariwisata. Keberadaan berbagai fasilitas penunjang seperti fasilitas perhubungan seperti Bandara Internasional Selaparang sebagai pintu masuk Lombok melalui udara, pusat perbelanjaan, dan jalur transportasi yang menghubungkan antar kabupaten dan propinsi inilah yang menjadi pertimbangan dalam pengembangan Kota Mataram menjadi kota pariwisata.
Secara geografis wilayah Kota Mataram mempunyai luas wilayah 61,30 km2 dengan
batas-batas sebagai berikut :
  • Batas Utara : Kabupaten Lombok Barat
  • Batas Selatan : Kabupaten Lombok Barat
  • Batas Timur : Kabupaten Lombok Barat
  • Batas Barat : Selat Lombok


Kota Mataram terdiri dari 3 (tiga) Kecamatan yaitu Kecamatan Mataram, Ampenandan Cakranegara dengan 23 kelurahan dan 247 Lingkungan.
Permasalahan pertanahan yang ada di Kota Mataram secara umum adalah yang menyangkut tentang : sengketa tanah warisan, sengketa hak dan dan sengketa  batas. Yang paling menonjol terjadi setiap tahunnya berupa sengketa warisan, baik sengketa warisan berdasarkan Adat Sasak (Hukum Islam) maupun berdasarkan Adat Bali (Agama Hindu).Berdasarkan temuan-temuan di lapangan, tingginya sengketa tanah yang berasal dari warisan dikarenakan oleh masyarakat yang masih beranggapan bahwa suatu perbuatan atas tanah dalam suatu hubungan keluarga, misalnya hibah dan pembagian warisan cukup hanya dengan dasar rasa saling percaya secara lisan dan saksi hidup, tidak merasa perlu membuat secara tertulis. Sedangkan permasalahan pertanahan yang merupakan permasalahan secara khusus di Kota Mataram adalah permasalahan konsolidasi tanah Karang Pule Kecamatan Ampena
Usaha untuk menumbuhkan kemampuan dalam menangani masalah lingkungan hidup, diarahkan agar lingkungan hidup tetap berfungsi sebagai pendukung dan penyangga ekosistem kehidupan sehingga terwujud adanya keseimbangan,keselarasan dan keserasian yang dinamis antara manusia dan alam sekitarnya.Pemerintah Kota Mataram dalam mengelola pembangunan berwawasan lingkungansebagai suatu kegiatan lintas sektor, telah melakukan berbagai kebijakan yang berkaitan dengan penanganan limbah padat, masalah persampahan dan pencemaran udara.Pengendalian yang diakibatkan oleh adanya pencemaran lingkungan hidup, tidak  hanya dilakukan oleh pihak Pemerintah Daerah Kota Mataram tetapi melibatkan juga
peran serta masyarakat, organisasi, LSM dan dari berbagai pihak yang memiliki kesadaran, tanggung jawab dan cinta serta peduli terhadap lingkungan, khususnya  yang ada di Kota Mataram melalui lingkungan yang sehat dan asri, maka suasana damai dan rukun akan mewarnai kehidupan masyarakat Kota Mataram yang cukup  heterogen ini.

PROFIL KOTA MALANG

Profil Wilayah
Kota Malang merupakan salah satu daerah otonom dan merupakan kota besar kedua di Jawa Timur setelah Kota Surabaya. Sebagai kota besar, Malang tidak lepas dari permasalahan sosial dan lingkungan yang semakin buruk kualitasnya. Kota yang pernah dianggap mempunyai tata kota yang terbaik di antara kota-kota Hindia Belanda ini, kini banyak dikeluhkan warganya seperti kemacetan dan kesemrawutan lalu lintas,suhu udara yang mulai panas, sampah yang berserakan atau harus merelokasi pedagang kaki lima yang memenuhi alun-alun kota. Namun terlepas dari berbagai permasalahan tata kotanya, pariwisata Kota Malang mampu menarik perhatian tersendiri. Dari segi geografis, Malang diuntungkan oleh keindahan alam daerah
sekitarnya seperti Batu dengan agrowisatanya, pemandian Selecta, Songgoriti ata situs-situs purbakala peninggalan Kerajaan Singosari. Jarak tempuh yang tidak jauh dari kota membuat para pelancong menjadikan kota ini sebagai tempat singgah dan sekaligus tempat belanja. Perdagangan ini mampu mengubah konsep pariwisata Kota Malang dari kota peristirahatan menjadi kota wisata belanja.
Orientasi Wilayah
Secara geografis wilayah Kota Malang berada antara 07°46'48" - 08°46'42" Lintang Selatan dan 112°31'42" - 112°48'48" Bujur Timur, dengan luas wilayah 110,06 km2  dengan batas-batas sebagai berikut :
  • Batas Utara : Kabupaten Malang
  • Batas Selatan : Kabupaten Malang
  • Batas Timur : Kabupaten Malang
  • Batas Barat : Kabupaten Malang


Kota Malang terdiri dari 5 Kecamatan yaitu Kedungkandang, Klojen, Blimbing,,Lowokwaru, dan Sukun serta 57 kelurahan.Daerah penyelidikan mempunyai elevasi antara 300 - 1.694 m di atas muka air laut
dan secara morfologi dikelompokkan menjadi 3 (tiga) satuan morfologi, yaitu satuan  morfologi dataran yang menempati bagian tengah dan selatan, satuan morfologi  pebukitan bergelombang menempati bagian timur dan utara, dan satuan morfologi pegunungan menempati wilayah bagian barat, utara dan timur. Karena letaknya yang cukup tinggi, Kota Malang memiliki udara yang sejuk dengan suhu rata-rata  24,13°C dan kelembaban udara 72% serta cerah hujan rata-rata 1.883 milimeter per tahun Secara geologi daerahnya disusun oleh batuan hasil kegiatan gunungapi yang terdiri dari tufa, tufa pasiran, breksi gunung api, aglomerat, dan lava. Secara hidrogeologi akumulasi air tanah di Cekungan Malang dijumpai pada lapisan akuifer yang dapat
dipisahkan menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu kelompok akuifer dengan kedalaman kurang dari 40 m, Kelompok akuifer dengan kedalaman antara 40 - 100 m, dan kelompok akuifer dengan kedalaman antara 100 - 150 m Berdasarkan kuantitas dan kualitas air tanahnya, potensi air tanah di Cekungan
Malang dikelompokkan menjadi 4 (empat) wilayah potensi air tanah, yaitu :
  • Wilayah potensi air tanah besar;
  • Wilayah potensi air tanah sedang;
  • Wilayah potensi air tanah kecil
  • Wilayah potensi air tanah langka.
Penggunaan lahan di daerah ini berupa hutan belukar yang menempati bagian barat,utara, dan timur. Tanahpesawahan menempati bagian selatan yang merupakanpedataran, tanah perkebunan, dan selebihnya merupakan tanah pemukiman pendudukperkotaan dan pedesaan.

PROFIL KOTA BANDA ACEH

Profil Wilayah
        Aceh Utara berada pada jalur yang sangat strategis yang merupakan titik tengah antara Banda Aceh sebagai Ibukota Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dengan  Medan sebagai ibukota Sumatera Utara. Disamping itu Kabupaten Aceh Utara mempunyai daerah penyangga yang cukup luas yaitu Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Aceh Tenggara, Kabupaten Timur dan Kabupaten Pidie. Letak Kabupaten Aceh Utara pada pesisir aceh bagian utara juga mempunyai hubungan perdagangan dengan Malaysia dan Thailand. Dukungan yang paling strategis adanya sarana dan prasarana perhubungan laut yang relatif memadai dibandingkan dengan kabupaten yang lain dalam Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
         Kota Banda Aceh terdiri dari 4 kecamatan yaitu kecamatan Meuraxa, Baiturahman, Kuta Alam dan Syiah Kuala., seluas 61,36 km2 dengan jumlah penduduk keseluruhan sejumlah 220.737 jiwa.Kecamatan dengan luas wilayah terbesar yaitu Kecamatan Syiah Kuala (20,39 km2) sedangkan kecamatan dengan luas terkecil yaitu Kecamatan Baiturrahman (10,16 km2).Sektor lain yang tak kalah pentingnya adalah pariwisata. Sejak dulu Banda Aceh terkenal sebagai kota budaya, karena kedudukannya sebagai pusat Kerajaan Aceh.Sebab itu banyak menyimpan khazanah budaya, monumen, tempat-tempat bersejarah, dan makam raja-raja seperti makan Sultan Iskandar Muda dan makam Syekh Abdurrauf Syiah Kuala. Tempat-tempat itu kini menjadi obyek wisata yang bernilai historis dan spiritual, serta keindahan alam. Fasilitas penunjang wisata seperti penginapan, terutama banyak terdapat di Kecamatan Baiturrahman dan Kecamatan Kuta Alam.
Orientasi  Wilayah 
 Secara geografis wilayah Kota Banda Aceh  mempunyai luas 1,36 km2 dengan batas batas sebagai berikut Batas Utara : Selat Malaka
  • Batas Selatan : Samudera Hindia
  • Batas Utara : Selat malaka
  • Batas Timur : Kabupaten Aceh Besar
  • Batas Barat : Kabupaten Aceh Besar

PROFIL KOTA SURABAYA

Posisi geografi sebagai permukiman pantai menjadikan Surabaya berpotensi sebagai tempat persinggahan dan
permukiman bagi kaum pendatang (imigran). Proses imigras inilah yang menjadikan Kota Surabaya sebagai kota multi etnis yang kaya akan budaya. Beragam migrasi, tidak saja dari berbagai suku bangsa di Nusantara, seperti, Madura, Sunda, Batak, Borneo, Bali,  Sulawesi dan Papua, tetapi juga dari etnis-etnis di luar Indonesia, seperti etnis Melayu, China, Arab, India, dan Eropa, datang, singgah dan menetap, hidup bersama serta membaur dengan penduduk asli, membentuk pluralisme budaya yang kemudian menjadi ciri khas Kota Surabaya.
Daerah pemukiman padat, tanah-tanah dibutuhkan untuk perumahan, kebutuhan komersil dan untuk komersil dan untuk  rekreasi, sehingga tidak ada lagi daerah yang kosong yang dapat digunakan untuk Sanitary Landfill. Kota Surabaya dengan jumlah penduduk hampir 3 juta jiwa, merupakan kota terbesar kedua Indonesia dan sangat besar peranannya dalam menerima dan mendistribusikan barang-barang industri, peralatan teknik,hasil-hasil pertanian, hasil hutan,sembako, dan sebagainya, terutama bagi wilayah Indonesia Timur. 
 Mengingat peranan Surabaya yang sedemikian penting, gangguan genangan banjir yang melanda Surabaya pada setiap musim hujan sangatlah berdampak luas terhadap kelancaran roda perekonomian, kesehatan dan kenyamanan hidup masyarakat Kota Surabaya dan sekitarnya. Sebagai kota perdagangan, Surabaya tidak hanya menjadi pusat perdagangan bagi hinterlandnya yang ada di Jawa Timur, namun juga memfasilitasi wilayah-wilayah di Jawa Tengah, Kalimantan, dan kawasan Indonesia Timur. 
Orientasi Wilayah
Kota Surabaya terletak diantara 07012’ -07021’ Lintang Selatan dan 112036’ - 112054’Bujur Timur, merupakan kota terbesar keduadi Indonesia setelah Jakarta. Batas-batas wilayah Kota Surabaya adalah sebagai berikut.
  • Batas Utara : Selat Madura
  • Batas Selatan : Kabupaten Sidoarjo
  • Batas Timur : Selat Madura
  • Batas Barat : Kabupaten Gresik


Topografi
Kota Surabaya meliputi:
  • Kota pantai
  • Dataran rendah antara 3-6 m di atas permukaan laut
  • Daerah berbukit, di Surabaya bagian selatan 20-30 m di atas permukaan laut
Temperatur Kota Surabaya cukup panas, yaitu rata-rata antara 22,60 – 34,10, dengan tekanan udara rata-rata antara 1005,2 – 1013,9 milibar dan kelembaban antara 42% -97%. Kecepatan angin rata-rata perjam mencapai 12 – 23 km, curah hujan rata-rata antara 120 – 190 mm. Jenis Tanah yang terdapat di Wilayah Kota Surabaya terdiri atas Jenis Tanah Alluvial dan Grumosol, pada jenis tanah Alluvial terdiri atas 3 karakteristik yaitu Alluvial Hidromorf, Alluvial Kelabu Tua dan Alluvial Kelabu.
 

PROFIL KOTA BLITAR

Profil Wilayah Kota Blitar yang menjadi ibu kota Blitar sejak dahulu sering  dikaitkan dengan nama besar Bung Karno.Karena disinilah Bung  Karno dimakamkan   dan pernah pula tinggal di sebuah rumahyang sekarang
dinamakan IstanaGebang. Bisadikatakan Kota Blitarbesar dan terkenal karena nilai dan historisnya.Wilayah Kota Blitar merupakan wilayah terkecil kedua di propinsi Jawa Timur setelah Kota Mojokerto. Tetapi dilihat dari konstelasi regional Blitar mempunyai beberapa keuntungan strategis karena berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Blitar yang mempunyai konstribusi dan pergerakan yang tinggi dan juga sebagai salah satu pintu gerbang menuju wilayah tersebut. Hal ini membawa konsekuensi pada pola transportasi dan penyediaan sarana transportasi dari dankearah Kota Blitar. Penyediaan sarana dan prasarana pendukung juga dimaksudkanagar semakin meningkatnya tingkat pelayanan terhadap pergerakan barang danjasa serta perekonomian yang sejalan, maka semakin baik pula tingkat pelayanan kegiatan di seluruh wilayah Kota Blitar
    Kota Blitar terdiri dari 3 kecamatanyaitu Kecamatan Sananwetan, Kepanjen Kidul, dan Sukorejo seluas
32,57 km2 dengan jumlah penduduk keseluruhan sejumlah 123.787 jiwa.
Lahan terbangun di Kota Blitar seluas 1.416.834 Ha atau sekitar 47.28 % dari keseluruhan wilayah. Proporsi terbesar penggunaan tanahnya adalah lahan permukiman, perumahan, kampung dan lahan persawahan. Sawah irigasi teknis masih cukup dominan keberadaannya.
Orientasi Wilayah

Kota Blitar merupakan ibu kota Blitar, Jawa Timur. Secara geografis wilayah Kota Blitar terletak 112°14' - 112°28' Bujur Timur dan 8°2' - 8°8' Lintang Selatan denga luas wilayah 32,57 km² yang dibagi dalam tiga wilayah kecamatan (Sananwetan Kepanjenkidul, dan Sukorejo) dengan jumlah penduduk 119.372 jiwa (Sensu Penduduk 2002). Adapun batas-batas wilayahnya dapat digambarkan sebagai  berikut
• Batas wilayah utara : Kabupaten Blitar
• Batas wilayah selatan : Kabupaten Blitar
• Batas wilayah Barat : Kabupaten Blitar
• Batas wilayah Timur : Kabupaten Blitar


Kota Blitar terletak diantara 150 – 200 m diatas permukaan laut. Dilihat dari ketinggian tersebut Kota Blitar termasuk dalam kategori daerah datar. Sedangkan pembagian daerah ketinggian adalah sebagai berikut :
• Ketinggian 175 – 200 meter dpl, seluas 605.203 Ha (18.577 % dari luas wilayah)
• Ketinggian 150 – 175 meter dpl, seluas 1.055.200 Ha (32.359 % dari luas wilayah )
• Ketinggian 150 meter dpl luasnya sekitar 692.234 Ha (21.248 % dari luas wilayah )
Sedangkan kemiringan rata – rata Kota Blitar adalah antara 0 – 2 %, kecuali pada daerah utara kemiringan antara 2 – 15 .Kedalaman tanah diwilayah ini bervariasi mulai dari 30 - 90 cm yang meliputi 71.5 %dari Iuas wilayah. Urutan selanjutnya dengan kedalainan 60 - 90 cm meliputi 15.5 %dan terkecil dengan kedalaman 30 - 60 cm meliputi areal 13%.


PROFIL KOTA PROBOLINGGO

Daerah yang berhari jadi tanggal 1 Juli 1918 ini, sejak dekade 80-an, tersiar keberbagai daerah sebagai sentra penghasil anggur di Propinsi Jawa Timur.Sebelumnya, lebih dulu terkenal karenamangga arum manis dan mangga madu yang dihasilkannya. Namun, lambat laun produksi kedua buah ini semakin lama semakin menurun karena adanya serangan hama. Hingga saat ini, tampaknya baik pemerintah kota maupun para petani belum memiliki pola pemberantasan hama secara terpadu yang bisa mengembalikan pamor  kedua buah itu.
Karena kemahsyurannya, hingga dibuatkan tugu lambang kota yang diberi nama Bayuangga. Kepanjangan dari bayu (angin gending yang hanya terjadi di Probolinggo dan bertiup setiap bulan Juli–September), anggur, dan mangga.
Orientasi Wilayah
Kota yang menjadi daerah transit serta penghubung untuk kota-kota bagian timur di Jawa Timur seperti Jember, Banyuwangi, dan Malang ini memiliki wilayah seluas 56,67 km² dengan jumlah penduduk sebanyak 191.522 jiwa (Sensus Penduduk 2000).
Adapun batas-batas wilayahnya sebagai berikut:
• Batas Utara : Selat Madura
• Batas Selatan : Kab.Probolinggo
• Batas Barat : Kab.Probolinggo
• Batas Timur : Kab.Probolinggo
 

Topografi
 Wilayah Kota Probolinggo terletak pada ketinggian 0 sampai kurang dari 50 meter dari atas permukaan air laut. Ketinggian tersebut dikelompokkan atas: ketinggian 0-210 meter, 10-25 meter, dan 25-50 meter. Semakin ke wilayah selatan, ketinggian dari permukaan laut relatif lebih besar. Namun secara keseluruhan, wilayah Kota Probolinggo relatif berlereng datar (0,25%). Kondisi geologi Kota Probolinggo umumnya dibentuk dari bahan induk batuan vulkanik, zaman quarter muda dan batuan endapan (alluvium). Bahan induk alluvium terdapat pada wilayah bagian utara dan tenggara. Sedangkan bahan induk hasil vulkanik terdapat pada bagian
lainnya.

PROFIL KOTA KEDIRI

      Kota Kediri  identik dikenal sebagi Kota Rokok Kretek. Karena di kota itulah ,berdiri abrik rokok kretek PT.GudangGaram di atas areal seluas 250 hektardan memiliki sekitar 40.000 karyawan dan buruh.
      Kota Kediri terdiri dari 3 kecamatan yaitu Kecamatan Mojoroto, Kota, dan Pesantren seluas 63,40 km2 dengan jumlah penduduk keseluruhan sejumlah 240.979 jiwa, dan 46 kelurahan.Kecamatan dengan luas wilayah terbesar yaitu Kecamatan Mojoroto (24,6 km2)sedangkan kecamatan dengan luas terkecil yaitu Kecamatan Kota (14,9 km2).Salah satu potensi pariwisata yang ada di Kota Kediri adalah Jalan Dhoho. Jikadikelola secara profesional, maka pengembangan jalan Dhoho dan sekitarnya sebagai obyek wisata belanja ini, bisa berhasil semacam Jalan Malioboro di Jogjakarta. Karena keberadaan Dhoho sendiri sebagai pusat keramaian, kini sudah tercipta. Aset obyek wisata-agama di Kabupaten Kediri, yaitu Gua Maria Puh Sarang,bisa ”dimanfaatkan” untuk mengembangkan Dhoho.Luas panen komoditi padi sawah pada tahun 2003 mengalami peningkatan sebesar11,57%. Peningkatan ini diikuti juga oleh peningkatan produksinya sebesar 11,29%. Produksi buah-buahan di Kota Kediri terbanyak adalah buah pisang yang tersebarterbanyak di Kecamatan Pesantren.
Hasil panen/produksi beberapa komoditi palawija pada tahun 2003 mengalami  penurunan dibanding tahun 2002, seperti jagung, ubi kayu, dan ubi jalar. Sedangkan tanaman palawija yang mengalami peningkatan yaitu kacang tanah dan kedelai.Populasi sapi dan sapi perah mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya,
sebanyak 4.914 ekor sapi pada tahun 2002 bertambah 139 ekor menjadi 5.053 ekorpada tahun 2003.Jumlah peternak terbanyak yang terdapat di Kota Kediri adalah di KecamatanPesantren dimana hampir di semua jenis hewan ternak terbanyak terdapat dikecamatan ini. Jumlah petani ikan yang terdapat di Kota Kediri adalah yangterbanyak di Kecamatan Mojoroto, namun demikian jumlah produksi ikan terbanyak
terdapat di Kecamatan Pesantren yaitu 120.000 kg, namun ada 35.500.000 ekor yang terdapat di kecamatan Mojoroto, atau tiga kali lebih banyak dibandingkanjumlah produksi dalam hitungan ekor di Kecamatan Pesantren
Orientasi Wilayah
Secara astronomis terletak di antara 5º9’30’-5º9’37’ Bujur Timur dan 7º45’50”-
7º51’30” Lintang Selatan. Secara geografis wilayah Kota Kediri mempunyai luas
wilayah 63,40 km2 dengan batas-batas administrasinya adalah sebagai berikut :

�� Batas wilayah utara : Kecamatan Gampengrejo dan Grogol
�� Batas wilayah timur : Kecamatan Gurah dan Wates
�� Batas wilayah selatan : Kecamatan Ngadiluwih dan Kandat
�� Batas wilayah barat : Kecamatan Semen dan Grogol




Wilayah Kota Kediri berada pada ketinggian antara 63-472 m diatas permukaan laut.Mayoritas Kota Kediri (80,17%) berada pada ketinggian 63-100 meter dari permukaan laut yang terletak sepanjang sisi kiri-kanan Kali Brantas.Seluruh wilayah Kota Kediri berbatasan dengan wilayah kecamatan-kecamatan yang termasuk wilayah pemerintahan Kabupaten Kediri baik batas utara, timur, selatan, maupun barat, dengan kondisi wilayah yang relatif datar, meskipun di bagian barat dibatasi oleh Gunung Klotok dengan ketinggian 672 meter dan Gunung  Maskumambang setinggi 300 meter.Keadaan geologi Kota Kediri dapat dijelaskan sebagai berikut :
a. Alluvium : hampir 77,49% (4.921 Ha) wilayah Kota Kediri terbentuk dari K
edirian induk alluvium.
b. Young Quertenery Volcanic Product : terdapat di bagian timur Kota Kediri
dengan luas 1.127 Ha (17.78%), wilayah ini merupakan tanah pertanian yang
subur karena berasal dari K edirian vulcanic muda (Gunung Kelud).
c. Undefferentiated Vulcanic Product : kelompok K edirian ini terdapat di
sebelah barat Kota Kediri yang terletak pada daerah berbukit seluas 300 Ha
(4,73%).
Ditengah-tengah Kota Kediri terdapat Kali Brantas yang mengalir dari arah selatankeutara, sehingga seolah-olah membelah Kota Kediri menjadi wilayah bagian barat(Kecamatan Mojoroto) dan wilayah timur (Kecamatan Kota Kediri dan KecamatanPesantren). Air tanah yang pada umumnya jernih (kedalaman air tanah 3-12 m) dandapat dimanfaatkan untuk air minum (sumur gali, sumur pmpa) terutama bagi penduduk yang tidak mendapat fasilitas air minum PDAM.Kota Kediri mempunyai curah hujan rata-rata antara 1000-2000 mm pertahun. Curahhujan tidak merata sepanjang tahun, bulan kering Mei-Oktober dan bulan basahNovember-April.Penggunaan lahan di Kota Kediri sebagian besar masih merupakan lahan terbangun
(untuk kegiatan perumahan, perdagangan, jasa dan industri) dengan wilayah seluas2.700,07 Ha (44%).

Sabtu, 09 April 2011

PROFIL KOTA SURAKARTA

Profil Kota
Keraton, batik dan Pasar Klewer adalah tiga hal yang menjadi simbol identitas Kota
Surakarta. Eksistensi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Pura
Mangkunegaran (sejak 1745) menjadikan Solo sebagai poros, sejarah, seni dan
budaya yang memiliki nilai jual. Nilai jual ini termanifestasi melalui bangunan-bangunan
kuno, tradisi yang terpelihara, dan karya seni yang menakjubkan. Tatanan sosial
penduduk setempat yang tak lepas dari sentuhan-sentuhan kultural dan spasial
keraton semakin menambah daya tarik. Salah satu tradisi yang berlangsung turun
temurun dan semakin mengangkat nama daerah ini adalah membatik. Seni dan
pembatikan Solo menjadikan daerah ini pusat batik di Indonesia. Pariwisata dan
perdagangan ibarat dua sisi mata uang, dimana keduanya saling mendukung dalam
meningkatkan sektor ekonomi
Orientasi Wilayah
Secara geografis wilayah Kota Surakarta berada antara 110º45’15”- 110º45’35” BT dan
7º36’00”- 7º56’00”LS dengan luas wilayah 44,04 Km² dengan batas-batas sebagai
berikut
�� Batas Utara : Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Boyolali
�� Batas Selatan : Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar
�� Batas Timur : Kabupaten Sukoharjo
�� Batas Barat : Kabupaten Sukoharjo dan Kabupaten Karanganyar
Kota Surakarta terdiri dari 5 kecamatan seluas keseluruhan 44,04 km2 dengan jumlah
penduduk sesuai sensus tahun 2000 sejumlah 490.214 jiwa. Kecamatan yang
mempunyai luas wilayah paling besar yaitu Kecamatan Banjarsari (14,81 km2)
sedangkan kecamatan yang mempunyai luas paling kecil yaitu Kecamatan Serengan.
Wilayah kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi terdapat di
Kecamatan Pasar Kliwon (915.418 jiwa/km2) dan terendah terdapat pada Kecamatan
Laweyan (10.127 jiwa/km2).
Secara umum kota Surakarta merupakan dataran rendah dan berada antara
pertemuan kali/sungai-sungai Pepe, Jenes dengan Bengawan Solo, yang mempunyai
ketinggian ±92 dari permukaan air laut.