Jumat, 25 November 2011

PETA JAKARTA LENGKAP flash

Kadangkala untuk bepergian di jakarta harus urvei terlebih dahulu tempatnya dipeta. bagi yang belum memiliki peta jakarta silahkan download dibawah ini :

DOWNLOAD PETA JAKARTA

Sabtu, 08 Oktober 2011

RUMUS-RUMUS GEOGRAFI


INDUSTRI

INDUSTRI

A. UMUM

1. Pengertian
Adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, bahan setengah jadi atau barang jadimenjadi barang yang mempunyai nilai tinggi dalam penggunaannya.
2. Kawasan industri dan kawasan berikat.
 Kawasan industri
Tempat pemusatan kegiatan industri pengolahan yang dilengkapi dengan sarana dan fasilitas penunjang lainnya. Serta dikelola oleh perusahaan kawasan industri , contoh : pulogadung , cikarang, medan , cilegon-banten dsb.

 Kawasan Berikat
Kawasan dengan batas-batas teretentu di wilayah pabean Indonesia yang didalamnnya diberlakukan ketentuan khusus bidang pabean, fungsinya sebagai tempat penyimpanan barang dan penimbunan barang serta pengolahan barang yang berasal dari dalam dan luar negeri. Tempatnya tidak jauh dari pelabuhan. Contohnya : cilincing.

B. PENGGOLONGAN INDUSTRI
Industri di Indonesia digolongkan sebagai berikut :
1. Aneka industri
Adalah industri yang menghasilkan barang-barang kebutuhan masyarakat luas>
Golongan aneka industri meliputi :
( 1 ) aneka pengolahan pangan
( 2 ) Aneka Sandang
( 3 ) Aneka kimi dan serat.
( 4 ) Aneka bahan banguanan dan umum.
2. indusri logam dasar
Meliputi kelompok-kelompok industri bahan logam dan produk dasar, industri motor/ mesin , perlengkapan pabrik dan, industri peralatan listrik dan industri alat angkutan.
3. Industri Kimia Dasar.
Adalah industri yang mengolah bahan mentah menjadi bahan baku atau bahan jadi. Dengan menggunakan modal kerja yang sangat besar, tenaga kerja dengan keterampilan tinggi serta teknologi yang maju.
4. Industri Kecil
Adalah industri yang bergerak dengan jumlah tenaga jerja kecil, modal kecil dan teknologi sederhana ini meliputi industri rumah tangga.

Berdasarkan proses produksinya, dibagi menjadi :
1. Industri hulu : Mengolah bahan mentah / bahan baku menjadi barang setengah jadi.
2. Industri hilir : Mengolah bahan jadi menjadi barang jadi.

Beradsarkan asal bahan baku yang digunakan , dibagi menjadi :
1. Industri Ekstraktif : Merupakan Industri yang bahan bakunya berasal langsung dari alam.
2. Industri Non Ekstraktif : Merupakan Industri yang bahan bakunya berasal dari industri lain.

Alfred weber ( 1909 ) mengembangkan teori lokasi yang didasrkan pada tulisannya yang berjudul the theory of industrial location. Pada dasarnya :
 Membedakan antara biaya transportasi bahan mentah dari sumber bahan mentah ke lokasi industri ( assembly Cost ) dan biaya transportasi pemasaran komoditi dari tempat komoditi.
 Biaya pengangkutan bahan mentah ( assembly coast ) termasuk biaya input sedangkan biaya pemasaran ( marketing cost )
 Secara keseluruhan biaya transport merupakan penjumlahan antar biaya pengangkutan bahan mentah dan biaya pemasaran.

Senin, 03 Oktober 2011

PROFIL KOTA PONTIANAK

Profil Kota

      Kota Pontianak merupakan salah satu kota di Indonesia yang dilintasi garis khatulistiwa. Karena posisinya tersebut, kota yang merupakan ibukota provinsi Kalimantan barat ini di kenal sebagai " Bumi Khatulistiwa". Letaknya yang dilintasi garis khatulistiwa menjadikan kota Pontianak sebagai tempat tujuan wisata, baik domestik maupun mancanegara.
     Kota Pontianak dipisahkan oleh sungai kapuas besar, sungai kapuas kecil, sungai landak dengan lebar 400 meter, kedalaman air antara 12 s/d 16 meter sedangkan cabangnya mempunyai lebar 250 meter.
Nama Pontianak dipercaya ada kaitannya dengan kisah dongeng Syarif Abdurrahman yang sering diganggu oleh hantu Kuntilanak ketika beliau menyusuri Sungai Kapuas sepanjang 1100 kilometer, sungai terpanjang di Indonesia. Menurut ceritanya, Syarif Abdurrahman terpaksa melepaskan tembakan meriam untuk mengusir hantu itu sekaligus menandakan dimana meriam itu jatuh, maka disanalah wilayah kesultanannya didirikan. Peluru meriam itu jatuh melewati simpang tiga Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang kini lebih dikenal dengan Beting Kampung Dalam Bugis Pontianak Timur atau kota Pontianak.
Letak Geografis   :  00  02’ 24” – 00  01’ 37” LU  dan   1090  16’ 25” – 1090 23’ 04” BT
Luas wilayah        :  107,82 km2


Batas Wilayah       :  
> Sebelah Utara    :  Kec. Sungai Ambawang
> Sebelah Timur    :  Kec. Sungai Raya dan Kec. Sungai Ambawang
> Sebelah Selatan  :  Kec. Sungai Raya dan Kec. Sungai Kakap
> Sebelah Barat     :  Kec. Sungai Kakap

Jumlah Kecamatan   :  5 kecamatan
Jumlah Kelurahan     :  24 kelurahan  

Selasa, 27 September 2011

PROFIL KOTA SUBANG

Orientasi wilayah
Kota Subang merupakan ibukota Kecamatan Subang yang terletak di kabupaten Ciamis Propinsi Jawa Barat.
Batas-batas administrasi dari kota Subang ini adalah:
  • Sebelah utara : Kecamatan Kalijati
  • Sebelah selatan : Sungai CiLamaran
  • Sebelah Timur : Sungai CiLamaran
  • Sebelah Barat : KabupatenKalijati


Secara topografi, sebagian besar wilayah kota Subang memiliki kemiringan 0º - 17º. Dan secara umum beriklim tropis dengan curah hujan rata-rata per tahun 2.117 mm. Untuk daerah dataran pada kota ini tersusun oleh batuan pasir taufan mempunyai daya dukung untuk fondasi cukup baik. 
Penduduk

Penduduk merupakan aset daerah, karena merupakan subyek sekaligus obyek dari pembangunan. Oleh karenanya faktor penduduk berkompetensi untuk ditinjau sehubungan dengan pembangunan suatu daerah, demi terwujudnya pembangunannya. Jumlah penduduk Kota Subang pada tahun 2003 adalah sebesar 115.316 jiwa. Dengan luas wilayah 3.045 Ha maka kepadatan penduduknya 38 jiwa/Ha. Dari data kependudukan di atas maka Kota Subang dapat digolongkan kepada Kelas Kota Sedang, dimana berdasar kriteria BPS mengenai kelas kota, Kota Sedang adalah Kota dengan jumlah penduduk antara 100.000 sampai 500.000 jiwa.

Ekonomi
Karakteristik perekonomian kota subang bercorak pertanian, hal ini karena sektor pertanian merupakan sektor dominan dalam perekonomian di kota ini. Sektor perekonomian lainnya adalah :
• Sektor Perdagangan, Hotel dan restoran
• Sektor Listrik, gas dan air bersih
• Sektor pengangkutan dan telekomunikasi
• Sektor Jasa, dan
• Sektor Pariwisata

Fasilitas Pendidikan
Kualitas sumberdaya manusia (SDM) adalah salah satu faktor yang sangat menentukan dalam pembangunan. Efektifitas, efisiensi dan produktifitas kinerja pembangunan diharapkan menjadi optimal jika dilaksanakan oleh kumpulan SDM berkualitas. Indikator kualitas SDM yang paling umum digunakan karena lebih mudah untuk mendapatkan informasi atau datanya adalah pendidikan formal. Fasilitas pendidikan di kota Kebumen terdiri dari 11 unit Taman Kanak-Kanak, 84 unit SD/MI, 7 unit SMP/MTS dan 5 unit SMTA/MAN. Fasilitas Kesehatan Pembangunan fasilitas kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia serta kualitas kehidupan dan harapan hidup. Ketersediaan sarana kesehatan berupa rumah sakit merupakan faktor utama dalam menunjang perbaikan kualitas hidup. Sementara sarana kesehatan di Kota Subang ini terdapat 2 Rumah Sakit, 2 Puskesmas, 4 Puskesmas Pembantu, 9 Balai Pengobatan.

Komponen Air Bersih
Sistem penyediaan air bersih yang ada di Kota Subang, meliputi sistem perpipaan yang dikelola oleh PDAM Kabupaten Subang Cabang Subang dengan menggunakan sistem BNA. Sumber air baku bagi sistem penyediaan air bersih Kota Subang terdiri atas air mata air dan sumur dalam. Terjadi konflik interest antara masyarakat dan PDAM terhadap penggunaan mata air. Debit minimum lebih kecil dari kebutuhan

PROFIL KOTA CIANJUR

Profil Wilayah
Kota Cianjur merupakan salah satu kecamatan yang terletak di kabupaten Cianjur propinsi Jawa Barat. Cianjur dikenal dengan pameo ngaos, mamaos dan maenpo. Ngaos adalah tradisi mengaji sebagai kegiatan peribadatan, mamaos adalah pencerminan kehidupan budaya daerah dimana seni mamaos Tembang Sunda Cianjuran berbibit buit (berasal) dari tatar Cianjur. Sedangkan maenpo adalah seni beladiri tempo dulu yang
sekarang lebih dikenal dengan Pencak Silat. Kawasan ini terletak pada posisi yang strategis karena dilintasi kota besar Bandung-Jakarta. Masyarakat Cianjur dikenal sebagai masyarakat yang “nyantri” religius. Hal tersebut dibuktikan dengan semakin menguatnya komitmen masyarakat Cianjur untuk melkasanakan yari’at Islam dalam kehidupan sehari-hari yang bukanlah merupakan gerakan politik, tetapi merupakan gerakan moral menuju terciptanya masyarakat Cianjur yang sugih mukti dan Islami dan tetap berada dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Orientasi Wilayah
Batas-batas administrasi kota Cianjur adalah :
  • Sebelah Utara : Kecamatan Mande
  • Sebelah Selatan : Kecamatan Warungkondang
  • Sebelah Timur : Kecamatan karangtengah
  • Sebelah Barat : Kecamatan Cugena


Ekonomi
Kondisi Perekonomian Daerah Sebagai daerah agraris yang pembangunannya bertumpuu pada sektor pertanian, kota Cianjur merupakan salah satu daerah swa-sembada padi. Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar pada PDRB kabupaten Cianjur. Ini terbukti dengan terkenalnya produksi beras Cianjur di pelosok negeri. Perdagangan yang juga merupakan salah satu faktor yang ikut mendukung sektor perekonomian, mendapat perhatian yang khusus dari pemerintah. Ini terlihat dengan dibangunnya Pasar Induk
Cianjur dan Pasar Muka Cianjur yang dilengkapi departemen store Ramayana, Pusat Grosir dan Super Mall Harimart yang terletak di Jl Dr Muwardi Rancagoong yang kesemuanya itu merupakan pusat perdagangan tradisional yang berwajah modern Selain dari perdagangan, sektor perekonomian juga didukung oleh pariwisata dengan Kebun raya Cibodas sebagai primadonanya, selain itu juga dikenal pusat pariwisata lainnya yaitu Gunung Gede dan Istana Kepresidenan dan lain-lain.
Penduduk
Penduduk merupakan aset daerah, karena merupakan subyek sekaligus obyek dari pembangunan. Oleh karenanya faktor penduduk berkompetensi untuk ditinjau sehubungan dengan pembangunan suatu daerah, demi terwujudnya pembangunannya. Jumlah penduduk Kota Cianjur pada tahun 2001 adalah sebesar 141.343 jiwa dengan luas wilayah 2344 Ha. Dengan jumlah penduduk sebanyak itu maka Kota Cianjur dapat digolongkan kepada Kelas Kota Sedang, dimana berdasar kriteria BPS mengenai kelas kota, Kota Sedang adalah Kota dengan jumlah penduduk antara 100.000 sampai 500.000 jiwa.

PROFIL KOTA BANDAR LAMPUNG

Profil Wilayah
Kota Bandar Lampung pintu gerbang Pulau Sumatera. Sebutan ini layak untuk ibu kota Propinsi Lampung. Kota yang terletak di sebelah barat daya Pulau Sumatera ini memiliki posisi geografis yang sangat menguntungkan. Letaknya di ujung  Pulau Sumatera berdekatan dengan DKI Jakarta yang menjadi pusat perekonomian negara. Kota ini menjadi pertemuan antara lintas tengah dan timur Sumatera. Kendaraan dari daerah lain di Pulau Sumatera harus melewati Bandar Lampung bila menuju ke Pulau Jawa. Pada umumnya kendaraan tersebut transit di terminal Rajabasa. Keluar dan masuknya kendaraan baik bus, angkutan kota maupun minibus ke terminal ini, ternyata mampu mendatangkan pemasukan bagi Pendapatan Asli Daerah Sendiri (PADS) Kota Bandar Lampung yang pada tahun anggaran 200 mencapai Rp 11,9 milyar. Angkutan jalan raya mampu menyumbang Rp 273 milyar dari total kegiatan ekonomi tahun 2000. Sumbangan lapangan usaha ini paling besar dibanding angkutan lain misalnya air. Banyaknya kendaraan yang keluar masuk melewati Bandar Lampung ini menambah padatnya jalan-jalan kota. Sejalan dengan perkembangan kota, kendaraan pribadi maupun umum pun semakin menjamur, ditambah lagi dengan kendaraan pengangkut hasil bumi dari pelosok daerah Propinsi Lampung yang akan dikirim ke Bandar Lampung sebagai pusat perdagangan provinsi.

Wilayah Kota Bandar Lampung merupakan daerah perkotaan yang terus berkembang dari daerah tengah ke daerah pinggiran kota yang ditunjang fasilitas perhubungan dan penerangan. Pengembangan kota ditandai dengan tumbuhnya kawasan permukiman, namun demikian daerah pinggiran belum terlihat jelas ciri perkotaannya. Pada tahun 2001 Kota Bandar Lampung dimekarkan dari 9 Kecamatan dan 84 kelurahan menjadi 13 kecamatan dan 98 kelurahan.

Orientasi Wilayah
Secara geografis wilayah Kota Bandar Lampung berada antara 50º20’-50º30’ LS dan 105º28’-105º37’ BT dengan luas wilayah 192.96 km2 dengan batas-batas sebagai berikut :
  • Batas Utara : Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan
  • Batas Selatan : Kecamatan Padang Cermin, Ketibung dan Teluk Lampung, Kabupaten Lampung Selatan
  • Batas Timur : Kecamatan Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan
  • Batas Barat : Kecamatan Gedungtataan dan Padang Cermin Kabupaten Lampung Selatan


Kota Bandar Lampung berada di bagian selatan Propinsi Lampung (Teluk Lampung) dan ujung selatan Pulau Sumatera. Menurut kondisi topografi, Propinsi Lampung dapat dibagi ke dalam 5 (lima) satuan ruang, yaitu:
  • Daerah berbukit sampai bergunung, dengan ciri khas lereng-lereng yang curam dengan kemiringan lebih dari 25% dan ketinggian rata-rata 300 meter dpl. Daerah ini meliputi Bukit Barisan, kawasan berbukit di sebelah Timur Bukit Barisan, serta Gunung Rajabasa.
  • Daerah berombak sampai bergelombang, yang dicirikan oleh bukit-bukit sempit, kemiringan antara 8% hingga 15%, dan ketinggian antara 300 meter sampai 500 meter dpl. Kawasan ini meliputi wilayah Gedong Tataan, Kedaton, Sukoharjo, dan Pulau Panggung di Daerah Kabupaten Lampung Selatan, serta Adirejo dan Bangunrejo di Daerah Kabupaten Lampung Tengah.
  • Dataran alluvial, mencakup kawasan yang sangat luas meliputi Lampung Tengah hingga mendekati pantai sebelah Timur. Ketinggian kawasan ini berkisar antara 25 hingga 75 meter dpl., dengan kemiringan 0% hingga 3%.Dataran rawa pasang surut di sepanjang pantai Timur dengan ketinggian 0,5 hingga 1 meter dpl. 5. Daerah aliran sungai, yaitu Tulang Bawang, Seputih, Sekampung, Semangka, dan Way Jepara.
Dominasi penggunaan lahan berupa belukar dan area hutan seluas 17 ribu km2. Area lahan sawah seluas 601 km2, perkebunan seluas 4.422 km2, sedangkan area pemukiman seluas 3.113 km2.

Penduduk
Masyarakat Lampung terdiri atas berbagai suku antara lain Lampung, Rawas, Melayu, Pasemah dan Semendo. Masyarakat Lampung bentuknya yang asli memiliki struktur hukum adat yang tersendiri, bentuk masyarakat hukum adat tersebut berbeda antara kelompok masyarakat yang satu dengan yang lainnya, kelompok-kelompok tersebut menyebar di berbagai tempat di daerah Lampung. Penduduk pendatang yang menetap di Propinsi Lampung diperkirakan mencapai 84 %. Kelompok etnis terbesar adalah Jawa (30%), Banten/Sunda (20%), Minangkabau (10%), Semendo (12 %). Kelompok etnis lain yang cukup banyak jumlahnnya adalah Bali, Batak, Bengkulu, Bugis, China, Ambon, Aceh, Riau, dan lain-lain. Banyaknya penduduk pendatang ini akibat adanya progam relokasi yang dilakukan sejak tahun 1905 oleh pemerintah kolonial Belanda dengan memindahkan petani dari Bagelan Jawa Tengah dan membangun Kota Wonosobo dan Kota Agung. Kemudian tahun 1932 – 1937 ada pembukaan lahan transmigrasi baru di Kota Metro, Pringsewu, dan berbagai kota lainnya. Program transmigrasi ini terus berlangsung hingga akhir dekade 80-an.
Karakteristik mata pencaharian penduduk pendatang pada umumnya memiliki kekhasan dalam beradaptasi. Sebagai contoh pendatang asal Pati – Jawa Tengah yang semula sebagai petambak lebih memilih usaha tambak di lokasi barunya. Semula mereka berbudidaya bandeng dan jenis ikan lainnya, tetapi seiring dengan
perkembangan tren budidaya udang windu mereka beralih ke jenis yang lebih menguntungkan ini ditambah lagi dengan dukungan dari pihak pemberi modal. Demikian pula dengan pendatang dari etnis Bugis yang terkenal sebagai pelaut lebih memilih menjadi nelayan. Pendatang dari Jawa yang semula petani lebih memilih usaha di bidang pertanian dan perkebunan.

PROFIL KOTA PALEMBANG

Profil Wilayah
Kota Palembang terkenal sebagai kota industri dan kota perdagangan. Posisi geografis Palembang yang terletak di tepian Sungai Musi dan tidak jauh dari Selat Bangka, sangat menguntungkan. Walaupun tidak berada di tepi laut, Kota Palembang mampu dijangkau oleh kapal-kapal dari luar negeri. Terutama dengan adanya Dermaga Tangga Buntung dan Dermaga Sei Lais. Dan juga ditambah lagi dengan adanya Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.Selain itu Kota Palembang terkenal sebagai Kota tua, yang pernah menjadi pusat pendidikan agama Budha. Dan banyak terdapat peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang tersebar di seluruh kota dan sekitarnya, dan situs-situs ini masih belum terurus, seperti Beteng Kuto Besak yang bahkan menjadi polemik karena dijadikan tempat perniagaan.
Kota Palembang yang khas karena dibelah dan dikelilingi Sungai Musi dan anak-anak sungainya, seharusnya lebih tepat menjadi kota sungai (Venice from the East), namun sayangnya pola pembangunan pada era lalu sangat kuat dengan visi penyeragaman, sehingga dibentuk sedemikian rupa menjadi kota daratan sebagaimana kota-kota lain. di Pulau Jawa. Aliran sungai menjadi sempit, bahkan tertutup, rawa-rawa pun ditimbun lalu ketika hujan turun, genangan air dan banjir terjadi di mana-mana. Kurang baiknya penataan kota adalah masalah utama Kota Palembang yang dampaknya membias kemana-mana misalnya masalah sosial seperti maraknya pengemis jalanan, PKL yang sulit ditertibkan, sampai arus lalu lintas yang di beberapa tempat terasa semrawut tidak terlepas dari soal penataan kota yang sejak awal kurang tepat. Akibatnya ketika desakan penduduk dan aktivitas ekonomi menuntut kota dikembangkan semakin pesat, berbagai permasalahan sosialpun muncul.

Orientasi Wilayah
Secara geografis wilayah Kota Palembang berada antara 2º 52’ - 3º 5’ LS dan 104º 37’- 104º52” BT dengan luas wilayah 400,61 Km² dengan batas-batas sebagai berikut :
  • Batas Utara : Kabupaten Banyuasin
  • Batas Selatan : Kabupaten Ogan Komering Ilir
  • Batas Timur : Kabupaten Banyuasin
  • Batas Barat : Kabupaten Banyuasin


Kota Palembang terdiri dari 14 kecamatan seluas 400,61 km2 dengan jumlah penduduk 1451.776 jiwa. Kecamatan dengan luas wilayah terbesar yaitu kecamatan Sukarami (98,56 km2), sedangkan kecamatan dengan luas terkecil yaitu kecamatan 6,5 km2. Kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk tertinggi terdapat di kecamatan Ilir Timur I (13.882 jiwa/km2), sedangkan kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk terendah yaitu kecamatan Gandus (766 jiwa/km2).

Penduduk
Jumlah penduduk Kota Palembang tahun 2002 sebanyak 1.451.776 jiwa, tersebar pada empat belas kecamatan. Jumlah penduduk terbanyak berada di Kecamatan Ilir Timur II, yaitu sebanyak 178.725 jiwa, sedangkan jumlah penduduk terendah di Kecamatan Gandus sebanyak 52.707 jiwa. Kepadatan penduduk rata-rata Kota Palembang adalah 3.624 jiwa per km2.